Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Feri Bengkulu--Enggano Tersendat, Kemenhub Diminta Turun Tangan

Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Bengkulu Darpinuddin menyatakan kerusakan kapal feri itu menyebabkan layanan Bengkulu menuju Pulau Enggano dengan feri Pulo Tello setop operasi.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 28 November 2019  |  13:23 WIB
Pulau Enggano.  - RRI
Pulau Enggano. - RRI

Bisnis.com, BENGKULU - Pemerintah Provinsi Bengkulu dan Pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara menyurati Kementerian Perhubungan, meminta kapal pengganti feri Pulo Tello yang rusak. 

Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Bengkulu Darpinuddin menyatakan kerusakan kapal feri itu menyebabkan layanan Bengkulu menuju Pulau Enggano setop operasi.

“Bupati Bengkulu Utara sudah bersurat pada 1 November kepada Menteri Perhubungan lalu diikuti pula surat dari Gubernur Bengkulu untuk mengganti feri Pulo Tello yang rusak,” katanya di Bengkulu seperti dikutip Antara, Kamis (28/11/2019).

Dia mengatakan keberadaan kapal feri Pulo Tello menjadi urat nadi transportasi masyarakat dari dan menuju Pulau Engggano dengan jadwal dua kali sepekan.

Sejak kapal tersebut mengalami kerusakan pada bagian lambung karena menabrak karang akibat cuaca buruk pada Oktober 2019, imbuhnya, praktis transportasi ke Pulau Enggano tersendat.

Saat ini, hanya ada satu kapal penyeberangan yakni kapal perintis Sabuk Nusantara KM 46 yang untuk sementara menggantikan KM 52 yang menjalani perawatan rutin atau docking.

Kapal perintis KM 46 tersebut memiliki kapasitas yang terbatas untuk mengangkut hasil bumi seperti pisang, ikan, emping, kakao dan lainnya dari Pulau Enggano menuju Kota Bengkulu.

“Hasil bumi warga terutama pisang dari Pulau Enggano yang dikapalkan ke Bengkulu mencapai ratusan ton per hari, sementara kapasitas KM 46 sangat terbatas, hanya mampu mengangkut 30 ton per hari,” ucapnya.

Darpinuddin berharap, surat dari pemda provinsi dan Bengkulu Utara tersebut segera direspon oleh Kementerian Perhubungan dengan menyediakan kapal feri pengganti untuk melayani masyarakat di pulau terluar itu.

Sementara warga Pulau Enggano, Edward Kaahua mengatakan sejak kapal feri tidak beroperasi, sebagian besar petani membiarkan pisang busuk di batang karena tidak bisa dibawa ke Bengkulu.

“Padahal perekonomian masyarakat sangat bergantung pada penjualan hasil bumi, terutama didominasi pisang kepok,” katanya.

Dia juga berharap, pemerintah segera mencarikan solusi untuk menyediakan alat transportasi yang dapat digunakan mengangkut penumpang dan hasil bumi dari Pulau Enggano.

Pulau Enggano merupakan pulau terluar berpenghuni lebih dari 3.000 jiwa, berada di tengah Samudera Hindia berjarak 106 mil laut dari Kota Bengkulu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bengkulu kapal feri

Sumber : Antara

Editor : Hendra Wibawa
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top