Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Atasi CAD, Tata Kelola Pelayaran Harus Direvitalisasi

Direktur National Maritime Institute (Namarin) Siswanto Rusdi menyatakan pencatatan defisit transaksi berjalan yang bengkak pada sektor neraca jasa memang disebabkan oleh defisit pada aktivitas transportasi khususnya jasa freight.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 28 November 2019  |  18:06 WIB
Pemudik menaiki kapal laut KM Dobonsolo yang akan akan diberangkatkan dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (30/5/2019). Kementrian Perhubungan bekerja sama dengan PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) menggelar mudik gratis tujuan Semarang dengan menggunakan kapal laut untuk 7.500 sepeda motor dan 2015 penumpang mudik lebaran 2019 hingga 3 Juni mendatang. - ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
Pemudik menaiki kapal laut KM Dobonsolo yang akan akan diberangkatkan dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (30/5/2019). Kementrian Perhubungan bekerja sama dengan PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) menggelar mudik gratis tujuan Semarang dengan menggunakan kapal laut untuk 7.500 sepeda motor dan 2015 penumpang mudik lebaran 2019 hingga 3 Juni mendatang. - ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

Bisnis.com, JAKARTA – Untuk menjamin defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) bisa menyempit tata kelola pelayaran Indonesia harus direvitalisasi.

Direktur National Maritime Institute (Namarin) Siswanto Rusdi menyatakan pencatatan defisit transaksi berjalan yang bengkak pada sektor neraca jasa memang disebabkan oleh defisit pada aktivitas transportasi khususnya jasa freight.

Secara rinci dia menjelaskan, penyebab pencatatan defisit pada Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) tak hanya karena kelemahan pada ekspor komoditas. Sebaliknya, ada permasalahan krusial terkait proses pengiriman atau ekspor dan impor, khususnya penggunaan kapal dan mekanisme pelayaran.

Dia menilai, sejumlah program nasional seperti tol laut dan peningkatan jumlah serta kapasitas pelabuhan belum cukup menjamin perbaikan pada sektor ini.

“Perlu dibongkar secara detil seberapa besar postur armada kita saat ini,” kata Siswanto saat dihubungi Bisnis.com, Kamis (28/11/2019).

Dia menyatakan secara rinci, ada banyak nasional yang beroperasi berukuran kecil, alhasil tidak menguntungkan ketika melakukan ekspor dan impor. Pelaku usaha akhirnya beralih untuk menggunakan kapal asing dengan kapasitas yang lebih besar.

Menurut Siswanto, program anyar Presiden Jokowi yakni tol laut belum memberikan efektivitas bagi sistem pelayaran dan menekan defisit. Misalnya saja, efektivitas tol laut belum berimbas banyak bagi efisiensi harga barang di daerah tertinggal. Pasalnya, ketersediaan barang juga belum optimal untuk melakukan pelayaran pulang dan pergi.

Oleh sebab itu, jika ingin memperbaiki CAD, Siswanto mengusulkan perbaikan pada sektor hulu yakni evaluasi dan revitalisasi tata kelola pelayaran. Langkah awal dengan evaluasi tol laut dengan mendorong subsidi kepada pelaku usaha dalam negeri berlayar di kawasan-kawasan 3T.

Jika efektivitas pelayaran bisa optimal, maka aktivitas di pelabuhan akan berkembang menggeliat dengan sendirinya. Dia menilai sejauh ini upaya pengembangan infrastruktur pelabuhan sudah cukup baik dan oleh sebab itu hanya dibutuhkan sistem yang mewadahi dan memastikan keberlanjutan kerja tol laut.

“Beberapa cara misalnya dengan APBN juga bisa BUMN membeli kapal besar, setara dengan kapal asing, bisa disewakan untuk pelayaran dan kegiatan ekspor-impor, sehingga mengurangi ketergantungan pada kapa lasing,” paparnya.

Selain itu juga perlunya menggenjot insentif fiskal, sehingga memudahkan pembiayaan dari pelaku usaha. Dengan demikian upaya ekspansi swasta lokal dalam industri perkapalan dan pelayaran ini tidak akan mengalami kendala cashflow.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

defisit transaksi berjalan
Editor : Achmad Aris
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top