Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

KABAR PASAR 28 NOVEMBER: NPL Manufaktur Mencemaskan, Tax Treaty & Kemitraan Dagang Dikaji

Berita mengenai kredit bermasalah di sektor manufaktur menjadi sorotan edisi harian Bisnis Indonesia, Kamis (28/11/2019).
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 28 November 2019  |  09:14 WIB
Karyawan melintas di dekat logo Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta, Senin (13/5/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam
Karyawan melintas di dekat logo Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta, Senin (13/5/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Berita mengenai kredit bermasalah di sektor manufaktur menjadi sorotan edisi harian Bisnis Indonesia, Kamis (28/11/2019).

Berikut beberapa perincian topik utamanya:

NPL Manufaktur Mencemaskan. Kredit bermasalah industri pengolahan menyentuh titik tertinggi dalam 12 kuartal terakhir. Kondisi ini kian mengonfirmasi lesunya sektor manufaktur Tanah Air. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan yang diolah Bisnis, rasio kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) menembus 3,6% per September 2019, atau tertinggi sejak kuartal IV/2016.

Tax Treaty & Kemitraan Dagang Dikaji. Pemerintah tengah mengkaji ulang pelaksanaan perjanjian penghindaran pajak berganda (P3B) dan perjanjian perdagangan bebas atau free trade agreement (FTA) karena berisiko menggerus penerimaan pajak.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menuturkan, banyaknya pelaksanaan double taxation agreement dan FTA membuat wajib pajak (WP) mendapatkan tarif yang sangat rendah, misalnya dari 20% menjadi 5%.

BKPM Kian Dominan. Peran Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sebagai pintu utama investasi makin kokoh sejalan denga terbitnya Instruksi Presiden (Inpres) No. 7/2019 tentang Percepatan Kemudahan Berusaha.

Beleid itu menginstruksikan Kepala BKPM menjadi koordinator dari proses investasi di Tanah Air. Adapun kementerian dan lembaga (K/L) wajib untuk menindaklanjuti rekomendasi dari BKPM serta mendelegasikan kewenangan perizinan berusaha dan pemberian fasilitas investasi kepada badan tersebut.

Prospek Investasi RI Masih Menarik. Persepsi risiko investasi Indonesia yang tecermin melalui pergerakan credit default swap dinilai masih aman kendati kepemilikan asing dalam surat berharga negara sempat mengalami penurunan akibat aksi ambil untung investor.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per Senin (25/11), kepemilikan asing dalam surat berharga negara (SBN) mencapai Rp1.069,64 triliun atau 38,7% dari total SBN yang beredar atau outstanding yakni Rp2.764,29 triliun.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kabar pasar
Editor : M. Taufikul Basari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top