Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

YLKI Sebut Harga Obat Mahal Bukan Karena Masalah Perizinan

Wacana Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto yang akan mengambil alih perizinan obat (pengawasan prapasar) untuk menekan mahalnya harga obat diklaim menunjukkan bahwa Kementerian Kesehatan tidak paham persoalan hulu masalah obat dan persoalan industri farmasi.
Dewi Aminatuz Zuhriyah
Dewi Aminatuz Zuhriyah - Bisnis.com 27 November 2019  |  11:34 WIB
Obat-obatan - boldsky.com
Obat-obatan - boldsky.com

Bisnis.com, JAKARTA - Wacana Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto yang akan mengambil alih perizinan obat (pengawasan prapasar) untuk menekan mahalnya harga obat diklaim menunjukkan bahwa Kementerian Kesehatan tidak paham persoalan hulu masalah obat dan persoalan industri farmasi.

Ketua pengurus harian YLKI Tulus Abadi mengatakan bahwa masalah utama mahalnya harga obat jelas bukan masalah perizinan, tetapi masalah bahan baku obat yang hampir 100% masih impor dan rantai distribusi obat yang sangat panjang.

Bahkan, dugaan adanya mafia impor obat inilah pemicu mahalnya harga obat. 

"Jadi kalau Menkes ingin menekan harga obat ke level yang lebih murah, maka Menkes harus mendorong untuk mengurangi impor bahan baku obat dan membuka keran bagaimana industri bahan baku obat bisa difasilitasi di Indonesia. Masak kalah sama Thailand? Juga membuat distribusi obat bisa lebih sederhana. Bahkan memberantas adanya dugaan mafia impor bahan baku obat," kata Tulus dalam keterangan pers, Rabu (27/11).

Menurutnya, meski  perizinan obat diambil alih oleh Menkes, hal itu tidak akan mampu menurunkan harga obat, karena duduk persoalannya memang bukan pada perizinan.

Alih alih perizinan di Kemenkes malah menjadi masalah baru, dan harga obat malah kian mahal. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

obat ylki kemenkes
Editor : Wike Dita Herlinda
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top