Logistik 2020 Diprediksi Tumbuh Melambat, Ini Pemicunya Versi SCI

Chairman SCI Setijadi menuturkan kontribusi lapangan usaha sektor logistik terhadap PDB yang mencakup sektor transportasi dan pergudangan tumbuh melambat seiring perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 26 November 2019  |  14:47 WIB
Logistik 2020 Diprediksi Tumbuh Melambat, Ini Pemicunya Versi SCI
Suasana bongkar muat peti kemas di Jakarta International Container Terminal, Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (8/1/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Supply Chain Indonesia (SCI) memproyeksikan sektor logistik atau transportasi dan pergudangan tumbuh melambat pada 2020 mendatang.

Chairman SCI Setijadi menuturkan kontribusi lapangan usaha sektor logistik terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang mencakup sektor transportasi dan pergudangan tumbuh melambat seiring perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Berdasarkan analisisnya, sektor logistik pada 2019 diprediksi tumbuh sebesar 11,56% menjadi Rp 889,4 triliun, sementara pada 2020 tumbuh sebesar 9,18% dengan nilai Rp 971 triliun.

"Pertumbuhan sektor logistik mengikuti perkembangan perdagangan yang dipengaruhi ekonomi global. Pertumbuhan ekonomi global melambat pada 2019 ini," paparnya kepada Bisnis.com, Selasa (26/11/2019).

Dia mengatakan berdasarkan proyeksi International Monetary Fund (IMF) pertumbuhan ekonomi global pada level 3% turun dari prediksi awal sebesar 3,7%.

Dengan demikian, sektor logistik pun turut terdampak dan mengalami perlambatan sesuai dengan perkembangan ekonomi global.

"SCI memprediksi pada 2020, subsektor transportasi Indonesia akan tumbuh sebesar 8,97% menjadi Rp 806,8 triliun dan subsektor pergudangan tumbuh sebesar 9.8% menjadi Rp 161,9 triliun," jelasnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada triwulan kedua tahun 2019 adalah sebesar Rp 220,6 triliun (harga berlaku) atau 5,57% dari PDB yang bernilai Rp 3.963,5 triliun atas dasar harga berlaku triwulan II 2019.

Dia melanjutkan dari sisi domestik, perkembangan sektor logistik Indonesia dipengaruhi berbagai faktor, antara lain jumlah penduduk Indonesia yang besar sekitar 267 juta jiwa dan tingkat pertumbuhan ekonomi yang proyeksinya pun melamban.

Selain itu, faktor-faktor mendasar juga sangat mendukung, yaitu wilayah yang luas sekitar 1,9 juta km2 dan bentuk negara kepulauan dengan 17.504 pulau. Faktor lainnya adalah keragaman komoditas dan budaya.

Setijadi mengatakan tantangan sektor logistik Indonesia pada 2020 mendatang antara lain kebutuhan penanganan terhadap barang kebutuhan pokok bersifat perishable dan musiman dan rantai distribusi yang panjang.

"Selain itu, tantangan lainnya adalah ketersebaran produksi dan skala ekonominya, serta kontinuitas, kualitas, dan ketertelusuran yang kurang terjamin," jelasnya.

Tantangan lainnya adalah pemahaman para pelaku terhadap SCM, integrasi para pelaku usaha dan pihak terkait, infrastruktur belum memadai, serta data dan sistem informasi logistik yang belum terintegrasi.

Selain itu, sektor logistik Indonesia belum mempunyai atau menerapkan standardisasi, baik untuk transportasi dan dan pergudangan. Standardisasi mencakup dalam hal proses, teknologi, dan personil.

Di sisi lain, menurutnya, sumber daya manusia (SDM) mumpuni pun menjadi salah satu tantangan pada tahun-tahun mendatang. Pasalnya, perusahaan yang mempunyai personil bersertifikasi Supply Chain Manager (Kepmenaker No. 94/2019), misalnya, masih sangat sedikit, yaitu baru sekitar 100 orang.

"Selain diperlukan untuk efisiensi logistik, standardisasi tersebut juga menjadi syarat penerapan digitalisasi dalam proses-proses logistik," paparnya.

Dari sisi infrastruktur, terangnya, tantangan yang dihadapi berkaitan dengan upaya peningkatan konektivitas nasional karena tuntutan terhadap infrastruktur tidak hanya mengenai kualitas, melainkan juga mengenai kapasitas dan konektivitas.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bps, logistik

Editor : Hendra Wibawa
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top