Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kelola Empat Bandara Baru, Simak Rencana Komprehensif AP II

Direktur Utama Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin telah dipercaya menjadi pengelola 4 bandara milik pemerintah dengan menyiapkan dana investasi Rp2,1 triliun yang dikucurkan selama 30 tahun.
Rio Sandy Pradana
Rio Sandy Pradana - Bisnis.com 22 November 2019  |  13:30 WIB
Direktur Utama AP II Muhammad Awaluddin. JIBI/Bisnis - Rio Sandy Pradana
Direktur Utama AP II Muhammad Awaluddin. JIBI/Bisnis - Rio Sandy Pradana

Bisnis.com, JAKARTA – PT Angkasa Pura II (Persero) sedang mempertimbangkan tiga rencana komprehensif guna pengembangan empat bandara baru hasil skema Kerja Sama Pemanfaatan (KSP) Barang Milik Negara. 

Direktur Utama Angkasa Pura (AP) II Muhammad Awaluddin telah dipercaya menjadi pengelola 4 bandara milik pemerintah dengan menyiapkan dana investasi Rp2,1 triliun yang dikucurkan selama 30 tahun.

Keempat bandara itu yakni Bandara TJilik Riwut (Palangkaraya), Bandara Radin Inten II (Lampung), Bandara HAS Hanandjoeddin (Belitung), dan Bandara Fatmawati Soekarno (Bengkulu).

"Kami sudah menggelar focus group discussion oleh para pemangku kepentingan untuk mengupas operasional dan pengembangan bandara yaitu aset, investasi, teknik, operasi, pelayanan, komersial, SDM dan komunikasi. Hasilnya, ada tiga rencana komprehensif," katanya, Jumat (22/11/2019).

Dia menjelaskan pihaknya akan melakukan sinkronisasi dan integrasi regulasi dari tiga kementerian agar tidak terjadi tumpang tindih dalam pelaksanaannya di lapangan.

Ada regulasi yang dikeluarkan oleh Kementerian Keuangan terkait dengan pengelolaan Barang Milik Negara, Kementerian Perhubungan selaku regulator yang mengatur teknis kebandarudaraan, serta regulasi Kementerian BUMN yang mengatur pengelolaan usaha AP II. 

Selain itu, lanjutnya, pihaknya memaksimalkan aset dengan menggarap peluang bisnis di sektor nonaeronautika seperti pengembangan Aerocity di kawasan Bandara Radin Inten II Lampung dan perhotelan atau area komersial untuk menunjang pariwisata di Bandara HAS Hanandjoeddin di Belitung.

Terlebih, AP II sebagai BUMN yang berorientasi keuntungan harus menjadikan asetnya sebagai potensi bisnis.

Dia menambahkan Belitung yang sudah ditetapkan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata akan mempermudah dalam pengembangan bisnis. AP II optimistis bisa membalikkan keadaan terhadap bandara yang masih rugi menjadi untung.

"Strategi ketiga adalah terkait dengan aspek pengelolaan bandara yang harus selalu mengikuti peraturan (comply to regulation) dan menganut prinsip kehati-hatian," paparnya.

Penandatangan perjanjian KSP telah dilakukan antara AP II dengan Kementerian Perhubungan untuk Bandara Tjilik Riwut sejak akhir 2018 dan telah resmi dikelola, sementara tiga bandara lainnya mulai dikembangkan mulai 1 Januari 2020. 

Awaluddin memerinci selama 30 tahun ke depan akan menyiapkan investasi sebesar Rp480 miliar untuk pengembangan di Tjilik Riwut, Radin Inten II sebesar Rp500 miliar, HAS Hanandjoeddin sebesar Rp559,9 miliar, dan Fatmawati Soekarno hingga Rp600 miliar. Nantinya, akan dilakukan berbagai pengembangan dan pembangunan infrastruktur.

Bandara Radin Inten II memiliki terminal baru seluas 9.650 meter² berkapasitas sekitar 3 juta penumpang per tahun, dan didukung runway berukuran 2.500 x 45 meter serta apron berukuran 565 x 110 meter untuk 12 parking stand pesawat. Tidak hanya itu, bandara ini juga memiliki 3 helipad berukuran 24 x 24 meter.

Bandara HAS Hanandjoeddin memiliki kapasitas terminal penumpang sekitar 400.000 orang per tahun, sementara pergerakan jumlah penumpang sepanjang 2018 telah mencapai 1 juta orang per tahun. Bandara ini dilengkapi dengan runway berukuran 2.400 x 45 meter, dengan volume pergerakan pesawat pada 2018 tercatat 9.534 penumpang.

Bandara Fatmawati Soekarno memiliki pertumbuhan jumlah penumpang yang cukup tinggi. Pada 2018 pergerakan penumpang pesawat mencapai 1 juta orang atau melebih kapasitas terminal yang hanya 500.000 orang per tahun.

Pihaknya telah memiliki rencana pengembangan terminal penumpang pesawat guna mengantisipasi pergerakan 5,6 juta penumpang. Adapun, saat ini Bandara Fatmawati Soekarno beroperasi dengan runway berukuran 2.500 x 45 meter

Sementara, Bandara Tjilik Riwut terdapat fasilitas penunjang yang ditambahkan berupa garbarata (aviobridge). Selain itu, untuk di dalam gedung terminal akan dilengkapi dengan beberapa unit mesin x-ray hingga conveyor belt untuk keperluan pemindahan barang bagasi.

Terminal bandara yang lama hanya memiliki kapasitas hingga 1 juta penumpang per tahun. Nantinya akan ditingkatkan menjadi 8 juta penumpang per tahun selama jangka waktu konsesi, yakni 30 tahun.

“Kami ingin memastikan bahwa dengan skema KSP, BMN ini dapat menjadikan bandara-bandara tersebut bisa berkontribusi lebih dalam meningkatkan perekonomian daerah, meningkatkan konektivitas transportasi dan logistik, dan meningkatkan nilai tambah pariwisata setempat,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

angkasa pura ii bandara soekarno-hatta
Editor : Hendra Wibawa
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top