Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Utang Global Catat Rekor Baru Lampaui US$250 Triliun

Dunia terbenam dalam utang. Utang global dilaporkan mencapai rekor nilai baru melampaui US$250 triliun pada paruh pertama 2019.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 15 November 2019  |  08:52 WIB
Ilustrasi - wscu.org
Ilustrasi - wscu.org

Bisnis.com, JAKARTA – Dunia terbenam dalam utang. Pasalnya, Utang global dilaporkan mencapai rekor nilai baru melampaui US$250 triliun pada paruh pertama 2019.

Dalam laporan yang dipublikasikan pada Kamis (14/11/2019), Institute of International Finance (IIF) juga melihat bahwa jumlah itu akan terus tumbuh pada akhir tahun.

“Didorong oleh kondisi keuangan yang lebih longgar, beban utang global yang membengkak meningkat sebesar US$7,5 triliun pada [paruh pertama] 2019 dan kini berada di dekat rekor baru senilai lebih dari US$250 triliun,” papar lembaga yang berbasis di Washington itu, seperti dilansir dari Forbes.

Dua negara berekonomi terbesar di dunia, China dan Amerika Serikat (AS), disebut bertanggung jawab untuk lebih dari 60 persen atas peningkatan sebesar US$7,5 triliun tersebut yang dialami pada paruh pertama.

Dengan utang baru itu, jumlah total uang tunai yang diutangkan kepada pemberi pinjaman bernilai lebih dari tiga kali lipat PDB global. Laporan itu juga melihat peningkatan gelembung utang pada akhir tahun ini.

“Dengan beberapa tanda perlambatan dalam laju akumulasi utang...kami memperkirakan utang global akan melampaui US$255 triliun tahun ini,” tulis IIF.

Beban utang yang meningkat dapat menyebakan negara-negara mengalami kesulitan melakukan lebih banyak pinjaman. Ini mungkin bukan masalah besar tetapi bisa menyulitkan beberapa negara pada tahun 2020.

“Pasar negara berkembang (emerging market) yang semakin bergantung pada pinjaman mata uang asing, termasuk Turki, Meksiko dan Chile, dapat terekspos risiko jika pertumbuhan melambat lebih lanjut,” jelasnya, dikutip dari Bloomberg.

Tingkat utang yang sangat tinggi juga dapat menghambat upaya untuk beralih ke ekonomi rendah karbon global. Dengan kata lain, pengeluaran yang dibutuhkan untuk membantu mencegah perubahan iklim bisa dikesampingkan.

Negara-negara dengan utang tinggi yang juga memiliki eksposur tinggi terhadap risiko iklim seperti Jepang, Singapura, Korea Selatan, dan AS, mungkin berjuang dengan peningkatan cepat dalam pendanaan yang diperlukan untuk melawan perubahan iklim.

"Guna mencapai tujuan ini, aliran pendanaan iklim publik dan swasta harus ditingkatkan dengan cepat. Ini adalah sumber kekhawatiran bagi negara-negara dengan utang tinggi yang juga memiliki eksposur yang tinggi terhadap risiko iklim,” lanjut IIF.

Dalam arti sederhana, beberapa negara mungkin akan terjebak di antara kenaikan permukaan laut di satu sisi dan meningkatnya utang di sisi lain.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

utang
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top