Indonesia Terancam Susah Ekspor Produk Pertekstilan ke India, Ada Masalah Apa?

Ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia ke India terancam menemui hambatan, lantaran pengusaha di negara tersebut meminta adanya kebijakan safeguard  untuk sejumlah TPT.
Yustinus Andri DP
Yustinus Andri DP - Bisnis.com 07 November 2019  |  18:23 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia ke India terancam menemui hambatan lantaran pengusaha di Negeri Bollywood meminta adanya kebijakan bea masuk tindakan pengamanan/BMTP (safeguard ) untuk sejumlah TPT.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat Dan Benang Filamen Indonesia (Apsyfi) Redma Gita Wiraswasta mengatakan kebijakan tersebut akan menganggu kinerja ekspor produk serat RI. Pasalnya, India merupakan salah satu negara tujuan ekspor utama produk serat Indonesia. Produk serat stapel buatan menjadi salah satu produk andalan ekspor RI ke India.

“Sebelumnya ekspor kita ke India untuk produk nilon dan spin drawn yarn (SDY) sudah dikenakan safeguard. Kalau mereka kenakan tambahan tarif atau menambah produk yang dikenai hambatan dagang, tentu akan mempengaruhi kinerja ekspor kita,” ujarnya, ketika dihubungi Bisnis.com, Rabu (6/11/2019).

Dia mengatakan pemerintah bisa menerapkan asas resiprokal kepada India guna memuluskan akses ekspor produk hulu TPT Indonesia. Terlebih, India telah mengajukan permohonan ke Pemerintah Indonesia agar bea masuk produk hulu  dan bahan baku TPT diturunkan menjadi 0%.

Adapun, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) ekspor produk TPT Indonesia ke  India paling besar diperoleh dari produk  serat stapel buatan. Sepanjang Januari--September 2019, nilai ekspor produk tersebut mencapai US$122 juta, naik 26,74% dari periode yang sama tahun lalu.

Di sisi lain, Wakil Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Marimutu Maniwaren mengatakan ekspor produk jadi TPT Indonesia ke India tidak terlalu besar. Untuk itu, dia menilai apabila India menerapkan BMTP terhadap produk jadi asal Indonesia, dampaknya tidak akan terlalu besar bagi kinerja ekspor nonmigas Indonesia secara umum.

“Justru kita ingin, produk jadi kita masuk ke India. Sebab pasar di negara tersebut besar dan belum bisa dicukupi oleh produksi domestik mereka. Namun selama ini ekspor produk jadi kita pun tidak terlalu besar, angkanya berapa saya lupa,” ujarnya.

 Adapun, seperti dikutip dari The Hindu Business Line pada Rabu (11/6/2019), Komite Nasional Tekstil dan Pakaian India mendesak pemerintah negara tersebut menerapkan safeguard impor serat, benang, kain dan pakaian jadi. Selain Indonesia , negara lain seperti China dan Bangladesh menjadi negara yang disinyalir mengalami lonjakan ekspor TPT ke India, yang membuat industri domestik mengalami tekanan.

Hal itu membuat pebisnis tekstil di India meminta agar pemerintah negara tersebut melakukan tindakan pengamanan perdagangan. Selain mengalami tekanan dari impor serat, benang, kain dan pakaian jadi, Komite Nasional Tekstil dan Pakaian India juga mengeluhkan tingginya impor pakaian bekas dari Indonesia, China dan Bangladesh.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Pengamanan Perdagangan Kementerian Perdagangan Pradnyawati mengaku siap melakukan pembelaan terhadap produk TPT Indonesia yang dikenai hambatan dagang di India. Namun demikian, dia mengklaim pemerintah India belum mengirimkan notifikasi resmi rencana pengenaan safeguard terhadap produk TPT asal Indonesia.   

 “Belum ada notifikasi resmi dari India. Mungkin saat ini baru tahap usulan dari pengusaha domestik India untuk mengenakan safeguard. Namun pada dasarnya kami akan melakukan pembelaan apabila diperlukan,” katanya. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
india, tekstil, ekspor nonmigas, industri tpt

Editor : Wike Dita Herlinda
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top