Pacu Industri Petrokimia, Pemerintah Bidik Investor Taiwan

Kemenperin berencana mengarahkan investasi tersebut ke wilayah Cilegon, Banten.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 16 Oktober 2019  |  22:29 WIB
Pacu Industri Petrokimia, Pemerintah Bidik Investor Taiwan
ilustrasi. - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan sedang bernegosiasi dengan beberapa pihak dari Taiwan agar bisa menarik investasi sektor petrokimia.

Investasi itu diharapkan dapat menghasilkan tambahan etilena sebesar 1 juta ton. Kemenperin berencana mengarahkan investasi tersebut ke wilayah Cilegon, Banten.

“Sejak tahun  1998, industri kimia ini tidak ada investasi yang besar. Saya berusaha ada investasi yang besar. Semua [investasi petrokimia] akan kami giring ke kluster khusus kimia di Cilegon,” ujar Sekretaris Jenderal Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono dalam pembukaan ajang Supply Chain and Logistic Series 2019, Rabu (16/10/2019).

Ada dua pemain industri petrokimia besar yang berbasis di Taiwan yakni Taiwan China Petroleum Corporation dan Formosa Petrochemial Corporation. Kedua pemain raksasa tersebut memiliki total kapasitas produksi hampir 5 juta ton etilena per tahun.

Sigit mengatakan sejak 2016 telah ada dua investasi besar di industri kimia yakni oleh PT Chandra Asri Petrochimchal Tbk. (CAP) dan PT Lotte Chemichal Titan Tbk. dengan total nilai investasi mencapai US$7 miliar. Menurutnya, investasi pada industri petrokimia akan memangkas defisit neraca berjalan secara signifikan.

Pasalnya, impor produk petrokimia per tahun mencapai lebih dari US$20 miliar atau sekitar 30% dari total impor nasional.

Sigit memperkirakan akan ada tambahan kebutuhan tenaga kerja di industri petrokimia sekitar 6.000 orang dari mulai berproduksinya investasi CAP dan Lotte. Adapun, CAP dan Lotte masing-masing diperkirakan akan menyerap 3.000 tenaga kerja untuk mengoperasikan fasilitas produksi tersebut.

Selain investasi dalam pengolahan nafta, pihaknya sedang mencoba untuk mengurangi impor nafta melalui penggunaan gas sebagai bahan baku industri petrokimia. Kemenperin saat ini sedang mengembangkan kilang penggunaan gas sebagai bahan baku pembuatan polietilena di Bintuni.

Sigit memprediksikan tren volume impor bahan kimia dan barang dari kimia akan menurun hingga akhir tahun ini. Hal tersebut disebabkan oleh adanya investasi baru oleh CAP dalam bentuk ekspansi kapasitas produksi polipropilena sebesar 480.000 ton menjadi 580.000 ton. Adapun, ekspansi tersebut ditargetkan akan rampung sebelum 2020.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri petrokimia

Editor : Galih Kurniawan
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top