Pemerintah Perlu Kerja Keras Untuk Genjot Ekonomi pada 2020

Apabila pemerintah melaksanakan kebijakan sebagaimana biasanya dan tidak melakukan evaluasi atas kebijakan 2019, bukan tidak mungkin pertumbuhan ekonomi pada 2020 hanya 5% sebagaimana yang diproyeksikan bakal dicapai pada 2019.
Muhamad Wildan
Muhamad Wildan - Bisnis.com 10 Oktober 2019  |  18:24 WIB
Pemerintah Perlu Kerja Keras Untuk Genjot Ekonomi pada 2020
Presiden Joko Widodo (tengah kiri) menyampaikan arahan pada rapat terbatas tentang Pembangunan SDM untuk Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi di Istana Bogor, Jawa Barat, Rabu (21/11/2018). - ANTARA/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah perlu bekerja ekstra keras dalam rangka mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 5,1% pada 2020 sebagaimana yang diramalkan oleh Bank Dunia.

Apabila pemerintah melaksanakan kebijakan sebagaimana biasanya dan tidak melakukan evaluasi atas kebijakan 2019, bukan tidak mungkin pertumbuhan ekonomi pada 2020 hanya 5% sebagaimana yang diproyeksikan bakal dicapai pada 2019.

Ekonom Indef Enny Sri Hartati menilai bahwa faktor penentu dari kenaikan adalah bagaimana pemerintah memanfaatkan secara maksimal sumber daya ekonomi di dalam negeri, bukan faktor eksternal seperti perang dagang antara AS dan China serta penurunan intensitas perdagangan global.

Bagaimanapun, struktur PDB Indonesia masih sangat ditentukan oleh konsumsi rumah tangga serta investasi langsung sehingga pemerintah perlu menjaga dua aspek tersebut.

Namun, Enny memandang hingga saat ini pertumbuhan investasi masih cenderung stagnan dan oleh karena itu ke depan masih perlu ditingkatkan oleh pemerintah.

"Pertumbuhan investasi masih stagnan sehingga sekarang modalnya nanti adalah terkait efektivitas intervensi pemerintah," ujar Enny, Kamis (10/10/2019).

Investasi yang hadir pun juga tercatat masih banyak yang berorientasi pasar domestik, bukan berorientasi ekspor sehingga masih sangat sulit bagi pemerintah untuk mengharapkan peningkatan ekspor yang signifikan ke depan.

Seperti diketahui, ekspor Indonesia masih sangat bergantung pada komoditas seperti CPO dan batu bara.

Secara jangka panjang, perlu ada industralisasi sehingga ke depan ekspor Indonesia bergeser dari komoditas ke barang olahan sehingga harga produk yang diekspor tidak mudah turun akibat volatilitas global.

"Mengapa investasi asing lari ke portofolio? Karena risiko investasinya terlalu besar dan pelaku usaha banyak yang belum berorientasi ekspor, pemerintah juga masih belum cukup memfasilitasi itu," ujar Enny.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Pertumbuhan Ekonomi

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top