Daya Saing Indonesia Tertekan Akibat Regulasi Investasi Rumit

Bappenas menilai regulasi investasi yang rumit menurunkan peringkat Indonesia untuk daya saing ekonomi global dari posisi 45 ke 50, menurut World Economic Forum WEF 2019.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 09 Oktober 2019  |  20:48 WIB
Daya Saing Indonesia Tertekan Akibat Regulasi Investasi Rumit
Pantai Mandalika di Lombok Tengah merupakan salah satu andalan pariwisata Nusa Tenggara Barat dan diharapkan men jadi sasaran investasi dalam dan luar negeri. - Antara/Ahmad Subaidi

Bisnis.com, JAKARTA – Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro menilai regulasi investasi yang rumit menurunkan peringkat Indonesia untuk daya saing ekonomi global dari posisi 45 ke 50, menurut World Economic Forum (WEF) 2019.

“Ya, itu karena regulasi kita terlalu rumit dan institusi pemerintah yang belum terlalu ramah investasi,” katanya saat ditemui dalam SDGs Annual Conference 2019 di Jakarta pada Rabu (9/10/2019).

Bambang menambahkan tumpang tindih aturan di kementerian/lembaga juga menekan minat investor ke Indonesia, padahal negara jiran seperti Thailand dan Malaysia makin agresif menawarkan berbagai kemudahan.

“Ketertarikan untuk berinvestasi di Indonesia berkurang akibat kerumitan, ditambah pesaing kita agresif menawarkan kemudahan,” ujarnya.

Sebelumnya, WEF mengeluarkan indeks daya saing global (GCI) 2019 yang menempatkan Indonesia di posisi 50. Dalam laporan itu menyebutkan Indonesia mengumpulkan skor 64,6 atau turun tipis 0,3 dibandingkan tahun lalu.

"Penurunan secara keseluruhan skor GCI masih kecil dan kinerja pada dasarnya tidak berubah," tulis laporan tersebut.

WEF juga menyebut kekuatan utama Indonesia adalah pasarnya dengan nilai 82,4 dan stabilitas ekonomi (90).

Mencermati kinerja dalam indikator lain pada indeks, WEF menilai masih ada ruang untuk peningkatan poin 30 – 40 dan tidak ada hambatan utama.

WEF menyebutkan bahwa Indonesia mengedepankan semangat budaya bisnis dengan skor 69,6 dan sistem keuangan yang stabil mencapai nilai 64, keduanya meningkat selama 2018.

Sementara itu, adopsi teknologi tinggi mencapai skor 55,4, mengingat pembangunan dan kualitas aksesnya masih relatif rendah. Sedangkan, terkait kapasitas inovasi Indonesia, WEF menilai sudah bertumbuh meski masih terbatas dengan skor 37,7.

Dalam laporan itu, Singapura menduduki posisi pertama di dunia, sebagai negara yang memiliki daya saing terbaik dengan skor 84,8.

Di Asia Tenggara, Indonesia berada di posisi keempat setelah Singapura, Malaysia di peringkat 27, dan Thailand (40). Sedangkan, Filipina di peringkat 64 dan Vietnam berada di peringkat 67.

Meski berada di bawah Indonesia, WEF menyebut Vietnam merupakan negara yang memiliki indeks paling meningkat dengan skor naik 3,5 menjadi 61,5 dengan posisi melompati 10 level, dari posisi sebelumnya di peringkat 77.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bappenas, daya saing, World Economic Forum

Sumber : Antara

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top