Ini Kelebihan Hunian di Pinggir Laut Dibandingkan dengan Tempat Lain

PP Properti Suramadu berencana mengembangkan 14 menara apartemen, hotel, perkantoran, hingga ruang konvensi, dan pusat perbelanjaan di areal 5,60 hektare.
Zufrizal
Zufrizal - Bisnis.com 07 Oktober 2019  |  09:47 WIB
Ini Kelebihan Hunian di Pinggir Laut Dibandingkan dengan Tempat Lain
Gambar rencana pengembangan Grand Sagara di sisi Jembatan Suramadu. - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA — Pengembang Grand Sagara, Surabaya meyakni proyek yang berada di pinggir laut itu sangat diminati oleh kalangan menengah atas yang mencari hunian privat dan penuh ketenangan.

Mereka memilih hunian di pinggir laut karena bisa menghadirkan suasana tenang, rileks dan menurunkan tingkat stres, serta meningkatkan imunitas tubuh.

Project Director PT PP Properti Suramadu Satrio Sujatmiko mengatakan banyak hasil penelitian yang menyebutkan hunian di pinggir pantai atau laut sangat baik untuk kesehatan otak karena membuat perasaan dan pikiran menjadi bahagia, tenang, dan kembali bersemangat.

“Salah satunya penelitian yang dilakukan oleh Washington University dan UC Irvine yang menemukan persepsi bahwa liburan ke pantai mampu meningkatkan kreativitas, mengurangi depresi dan kecemasan, serta mengembalikan kesehatan mental. Itulah kenapa banyak masyarakat ingin ke pantai,” ujarnya melalui siaran pers, Senin (7/1/0/2019).

Berkaitan dengan hal ini, dia mengklaim bahwa Grand Sagara yang tengah dikembangkan perusahaan berada di dekat pantai yang menghadap ke laut utara Surabaya, tepatnya di kaki Jembatan Suramadu Surabaya adalah lokasi hunian yang cocok untuk itu.

Anak usaha PT PP Properti Tbk., itu berencana mengembangkan 14 menara apartemen, hotel, perkantoran, hingga ruang konvensi, dan pusat perbelanjaan di areal seluas 5,60 hektare.

“Kami sekarang fokus menjual proyek Adriatic Tower. Menara apartemen setinggi 50 lantai dengan kapasitas 1.040 unit apartemen. Kami tentu diuntungkan karena ini resor pantai yang akan menarik bagi masyarakat kelas menengah atas,” katanya.

Sementara itu, Direktur Realti PT PP Properti Tbk. Galih Saksono mengatakan bahwa apartemen Adriatic Tower sangat bersaing di pasar, baik dari segi harga maupun mutu proyek.

“Kami menyebutnya proyek premium berharga sederhana. Kami cuma patok harga Rp330 juta hingga Rp800 juta per unit. Ini setara dengan Rp17 jutaan per meter persegi.”

Dia membandingkan dengan harga rata-rata apartemen dan kondominium di Surabaya yang berdasarkan rilis Colliers Indonesia mencapai pada kisaran Rp21,30 juta per meter persegi atau tumbuh tipis sebesar 2,10 persen jika dibandingkan dengan semester lalu.

“Jadi harga kami sangat bersaing. Kalau kualitas kami masuk dalam kelas premium untuk Surabaya. Yang terpenting lagi kami satu-satunya resor pantai di Surabaya dan menjadi apartemen tertinggi karena dibangun 50 lantai,” kata Galih.

Terkait dengan proyek Grand Sagara, Satrio berharap agar proyek itu bisa memberi kontribusi positif bagi pengembangan Surabaya sebagai salah satu kota utama di Indonesia. Grand Sagara, tuturnya, akan mengubah wajah pesisir Surabaya yang selama ini terkesan keras menjadi wilayah yang berkelas.

“Kami juga menjual view Selat Madura dengan ikon Jembatan Suramadu-nya. Nanti akan terlihat indah dari apartemen yang kami bangun,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
jembatan suramadu, pt pp properti

Editor : Zufrizal

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top