Usai Unjuk Rasa, Bagaimana Dampaknya terhadap Bisnis Pengembang?

Industri properti sepanjang 2019 juga sudah menghadapi berbagai macam halang dan rintang, mulai dari periode politik pemilihan umum, libur puasa, Lebaran.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 07 Oktober 2019  |  08:33 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Penolakan terhadap sejumlah revisi undang-undang yang terjadi di Indonesia memicu terjadinya unjuk rasa selama beberapa hari berturut-turut. Hal itu ikut membawa kekacauan pada dunia investasi properti.

Padahal, sebelumnya Presiden Joko Widodo mengimbau agar masyarakat bisa meningkatkan investasi dalam segala sektor sehingga bisa memacu pertumbuhan ekonomi Tanah Air.

Selanjutnya, industri properti sepanjang 2019 juga sudah menghadapi berbagai macam halang dan rintang, mulai dari periode politik pemilihan umum, libur puasa, Lebaran, yang membuat sejumlah pengembang yakin bahwa properti baru akan mulai naik pada pertengahan tahun.

Tak hanya itu, unjuk rasa yang ada beberapa waktru lalu nyatanya juga memberi dampak yang lebih besar lagi di bidang properti, membuat konsumen terutama dari sisi investor bersikap melihat dan menunggu lebih lama lagi.

Hal ini juga nyatanya membuat sejumlah pengembang sulit mencapai target-target setahun, bahkan terpaksa tidak menaikkan target penjualan dibandingkan dengan tahun lalu.

Hal itu disampaikan oleh Marketing and Sales Director Pollux Properties Maikel Tanuwidjaja.

Dia mengatakan bahwa tahun ini, perusahaan terpaksa menurunkan sedikit target penjualannya dibandingkan dengan tahun lalu karena 2019 akan menjadi tahun yang berat bagi industri properti.

“Tahun ini target kami Rp750 miliar, agak turun dari tahun lalu. Sampai kuartal ketiga 2019 ini sudah tercapai 60 persennya. Harapannya kuartal keempat 2019 bisa kejar dengan portofolio yang ada,” ungkap Maikel kepada Bisnis beberapa waktu lalu.

Target tersebut nyatanya juga direvisi ketika melihat kondisi pasar properti di Indonesia. Pasalnya, menurut catatan Bisnis akhir tahun lalu, CEO PT Pollux Properti Indonesia Tbk. Nico Po menyebutkan bahwa target marketing sales Pollux 2019 bisa mencapai dua kali lipat dari 2018 atau hingga Rp1,98 triliun.

Menurut Maikel, dengan gejolak unjuk rasa yang terjadi belakangan ini, cukup membuat investor, terutama dari asing, menjadi kembali ragu untuk melakukan pembelian dan membuat periode wait and see menjadi semakin panjang.

Padahal, kata Maikel, produknya yang paling laku diburu investor asing ada di Batam, sedangkan gejolak yang ada terjadi di Jakarta. Hal itu ungkap Maikel, tetap berpengaruh karena orang asing berpikir Indonesia sama dengan Jakarta, kalau terjadi sesuatu di Jakarta, di daerah lain pun demikian.

Namun, tak sejalan dengan yang disampaikan Pollux, General Manager Sales and Marketing PT Sirius Surya Sentosa Suranto Tjhai mengatakan bahwa tahun ini pasar properti tidak bisa dibilang lesu karena nyatanya antusiasme investor pada properti tetap tinggi.

“Memang ada beberapa yang sampai kesulitan menjual, tapi ada juga proyek yang dijual enggak sampai seminggu sudah habis. Artinya, enggak lesu juga,” katanya.

Menurutnya, lesu atau tidaknya pasar properti tahun ini, apalagi ditambah dengan adanya gejolak unjuk rasa, tetap dilihat dari sektor target pasarnya dan lokasinya.

Secara global, ungkap Suranto, investor memang sedikit “mengerem” pembelian, tetapi tidak terjadi penurunan jika memang produk yang diluncurkan merupakan produk kebutuhan orang banyak.

“Tahun ini dari produk-produk kami yang ada sudah terjual 70 persen—80 persen, semoga bisa tercapai semuanya sampai akhir tahun,” jelasnya.

Sementara itu, Presiden Direktur PT Ciputra Residence Budiarsa Sastrawinata mengatakan bahwa untuk proyeknya seperti di Citra Maja Raya tidak terkena dampak sama sekali dari kejadian-kejadian unjuk rasa di Jakarta.

“Demonya kan jauh, satu dua hari memang menghambat perjalanan kereta mengingat transportasi utama ke sini [Citra Maja Raya] pakai kereta, tapi secara umum tidak mengganggu,” katanya kepada Bisnis, Kamis (3/10/2019).

Namun, dari sisi penjualan, tuturnya, tidak ada hambatan. Hingga saat ini, Citra Maja Raya sudah memasarkan dan membangun lebih dari 16.000 unit rumah dan komersial. Budiarsa menegaskan, pembangunan akan terus dilakukan.

“Next step ada klaster Pecatu, [harganya] di bawah Rp200 juta malahan. Jadi, kami tidak akan berhenti, dari 16.000 yang terjual itu yang sudah serah terima sudah 10.000, sisanya dalam penyelesaian,” ungkapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bisnis properti, unjuk rasa

Editor : Zufrizal

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top