Indeks Keyakinan Konsumen Turun, Pemerintah Harus Jaga Inflasi

Untuk memastikan daya beli konsumen terjaga sampai akhir tahun, pemerintah perlu menjaga inflasi.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 04 Oktober 2019  |  18:59 WIB
Indeks Keyakinan Konsumen Turun, Pemerintah Harus Jaga Inflasi
Antrean kendaraan terjebak di tol dalam kota akibat aksi demonstrasi di sekitar Gedung DPR di Jakarta pada Senin (30/9). Dinamika politik dan keamanan pada pertengahan hingga akhir September lalu dianggap menjadi disinsentif di sektor keuangan. - Bisnis/Arief Hermawan

Bisnis.com, JAKARTA – Untuk memastikan daya beli konsumen terjaga sampai akhir tahun, pemerintah perlu menjaga inflasi.

Peneliti Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menyatakan umumnya setelah Lebaran dan semester I, angka Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) akan menurun dan menjelang akhir tahun akan bergerak naik kembali.

Penurunan keyakinan konsumen untuk September tahun ini, menurut dia, disebabkan beberapa hal.

Yang terdepan ialah faktor pendorong pendapatan dari bantuan sosial yang didapatkan oleh kelompok masyarakat menengah ke bawah sudah relatif lebih sedikit.

"Hal ini disebabkan penyaluran bansos yang sudah banyak dilakukan pada semester I, sehingga memengaruhi keyakinan konsumsen kelas tersebut " ujar Yusuf kepada Bisnis pada Jumat (4/10/2019).

Sementara itu, untuk kelas menengah ke atas, dinamika politik dan keamanan yang terjadi pada pertengahan hingga akhir September lalu menjadi semacam disinsentif di sektor keuangan. "Kondisi ini memengaruhi kepercayaan konsumen di kelas menengah ke atas."

Dia menambahkan sisa waktu 3 bulan ke depan memang tidak banyak yang dilakukan pemerintah untuk bisa mendorong pertumbuhan ekonomi pada target 5,1%.

Oleh karena itu, lanjutnya, yang paling penting sekarang pemerintah perlu menjaga angka inflasi di kisaran target.

Di samping itu, Yusuf menilai Bank Indonesia perlu memastikan transmisi penurunan suku bunga acuan ke suku bunga kredit telah berjalan dengan benar.

Dia menyatakan dengan suku bunga kredit yang lebih rendah harapannya aktivitasnya ekonomi khususnya konsumsi bisa lebih menggeliat.

Selain itu, dari sisi kebijakan fiskal, pemerintah bisa memaksimalkan realisasi belanja modal, dengan multiplier effect yang diberikan belanja modal, sehingga selanjutnya pun memberikan stimulan bagi investasi. Alasannya, jika investasi berjalan, konsumsi ikut terkerek.

"Ini akan sangat bergantung pada perkembangan ekonomi dalam 3 bulan terakhir [2019]. Jika tren yang sekarang berlanjut, 5,1% merupakan angka maksimal yang bisa digapai pemerintah," ungkap Yusuf.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank indonesia, Inflasi, makroekonomi

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top