Perlambatan Sektor Manufaktur Berpotensi Hambat Laju Ekonomi

Ekonom Bank Permata Josua Pardede menuturkan, perlambatan industri manufaktur tidak hanya terjadi di Indonesia. Industri pada negara seperti China dan negara-negara tetangga di Asia Tenggara turut mengalami penurunan industri manufaktur karena situasi global.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 03 Oktober 2019  |  10:02 WIB
Perlambatan Sektor Manufaktur Berpotensi Hambat Laju Ekonomi
Pekerja merakit mesin mobil Esemka di pabrik PT Solo Manufaktur Kreasi, di Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (6/9/2019)./JIBI - Bisnis/Chamdan Purwoko

Bisnis.com, JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III/2019 diperkirakan sulit menembus angka 5,1%. Salah satu penyebabnya ialah menurunnya performa industri manufaktur. Pemerintah dinilai harus semakin memfokuskan kebijakannya pada sejumlah sektor manufaktur unggulan.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede menuturkan, perlambatan industri manufaktur tidak hanya terjadi di Indonesia. Industri pada negara seperti China dan negara-negara tetangga di Asia Tenggara turut mengalami penurunan industri manufaktur karena situasi global.

Merosotnya kinerja industri manufaktur domestik, lanjutnya, sudah terjadi sejak awal 2019. Hal ini terlihat dari angka pertumbuhan industri manufaktur sepanjang 2019 yang berada di bawah 4%. Industri yang terkontraksi, keadaan global yang melambat serta exposure ekspor (manufaktur) yang turun membuat performa industri ini secara keseluruhan melambat.

“Meski begitu, ada sejumlah industri manufaktur yang tumbuh seperti industri makanan dan minuman yang diperkirakan dapat tumbuh lebih dari 7%,” kata Josua saat dihubungi pada Rabu (2/10/2019).

Akibat faktor-faktor tersebut, Josua memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan cukup sulit untuk menembus angka 5,1%. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi kuartal III/2019 berada pada kisaran 5,0% hingga 5,1%.

Untuk mengerek industri manufaktur sekaligus meningkatkan pertumbuhan ekonomi, Josua menyarankan pemerintah untuk fokus pada kegiatan pendukung dan pemberian insentif pada lima sektor manufaktur yang telah ditentukann, yakni tekstil dan produk tekstil (TPT), makanan dan minuman, elektronik, petrokimia serta otomotif.

Menurut Josua, pemerintah tidak perlu mengalihkan kebijakannya pada sektor-sektor industri lain. Kelima sektor tersebut dinilai memiliki pasar domestik yang besar serta memiliki daya saing yang cukup tinggi di pasar global.

“Kalau menyimpang terlalu jauh dari fokus yang ditentukan, dikhawatirkan tidak akan membawa dampak yang signifikan bagi industri dan pertumbuhan ekonomi. Terlebih lagi sektor otomotif yang sudah bisa melakukan ekspor dan sifatnya padat karya, perlu ada kebijakan-kebijakan yang fokus agar optimal,” kata Josua.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
manufaktur

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top