Sentimen Manufaktur Asia Tetap Suram Jelang Tatap Muka AS-China

Sentimen manufaktur di sebagian besar wilayah Asia tetap suram pada September, di tengah tensi hubungan perdagangan dan lesunya permintaan global.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 01 Oktober 2019  |  12:58 WIB
Sentimen Manufaktur Asia Tetap Suram Jelang Tatap Muka AS-China
Karyawan bekerja di jalur produksi mesin bor di sebuah pabrik di Zhangjiakou, Provinsi Hebei, China 14 November 2018. - REUTERS

Bisnis.com, JAKARTA – Sentimen manufaktur di sebagian besar wilayah Asia tetap suram pada September, di tengah tensi hubungan perdagangan dan lesunya permintaan global.

Indeks manajer pembelian (Purchasing Managers' Index) manufaktur yang dirilis IHS Markit untuk Korea Selatan, Jepang, dan Indonesia masih berada di wilayah kontraksi, sedangkan PMI Korea Selatan turun satu poin menjadi 48.

Di negara-negara lain, sebagian besar indeks bertahan di level yang lemah. Namun Taiwan mampu melawan arus ini dengan merayap lebih tinggi ke level 50. Inilah batas yang memisahkan kondisi kontraksi dan ekspansi.

Sementara itu, data PMI China pada Senin (30/9/2019) menunjukkan beragam gambaran. Data PMI yang dirilis Caixin Media dan IHS Markit melonjak menjadi 51,4 pada September dari 50,4 pada Agustus.

Di sisi lain, PMI manufaktur resmi yang dirilis Biro Statistik Nasional (NBS) China menunjukkan hasil yang kurang optimistis dengan naik sedikit menjadi 49,8 pada September dari sebelumnya 49,5.

Negosiasi perdagangan Amerika Serikat-China tetap menjadi risiko kritis bagi prospek manufaktur di kawasan Asia. Tim negosiasi Negeri Tirai Bambu dijadwalkan akan bertandang ke Washington bulan ini untuk menggelar perundingan lebih lanjut soal perdagangan.

Pemerintah AS telah meredam spekulasi kemungkinan untuk membatasi akses perusahaan-perusahaan China dari bursa saham AS, sementara pejabat pemerintah China menegaskan kembali antusiasme untuk membuka pasar keuangan bagi investasi asing.

“Prospek untuk sentimen manufaktur China akan bergantung pada progres perundingan perdagangan AS-China pada 10 Oktober,” tulis analis Oversea-Chinese Banking Corp. dalam sebuah catatan.

“Jika tidak ada eskalasi lebih lanjut, kami pikir sektor manufaktur akan segera mencapai bottom,” lanjutnya, seperti dilansir dari Bloomberg, Selasa (1/10/2019).

Selain soal AS-China, hubungan perdagangan antara Jepang dan Korea Selatan telah memanas dalam beberapa pekan terakhir. Pekan lalu, Menteri Luar Negeri Korsel menyebutkan "ketidaksepakatan besar atas masalah yang dihadapi" ketika kedua belah pihak membatalkan pakta militer dan ekonomi.

Di Asia Tenggara, sentimen manufaktur tampak berfluktuasi di antara negara-negara yang telah menunjukkan ketahanan lebih baik.

PMI manufaktur Thailand meningkat menjadi 50,6 dari 50, sedangkan Vietnam sedikit turun menjadi 50,5 meskipun tetap berada di wilayah ekspansi. Adapun PMI manufaktur Malaysia meningkat setengah poin menjadi 47,9.

“Beragam angka PMI manufaktur di Asia untuk September memberi pesan yang jauh lebih berhati-hati tentang kesehatan ekonomi di kawasan ini dibandingkan dengan PMI China pada Senin (30/9),” terang Ekonom Bloomberg untuk Asia, Chang Shu dan Justin Jimenez.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
manufaktur, manufaktur, perang dagang AS vs China

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top