Pertamina Integrasikan Proyek Langit Biru dengan Kilang Cilacap

PT Pertamina (Persero) mengintegrasikan operasional Proyek Langit Biru Cilacap (PLBC) dengan Kilang Cilacap. Hal ini ditandai dengan serah terima PLBC dari Direktorat Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia (MP2) kepada Direktorat Pengolahan Pertamina.
David Eka Issetiabudi
David Eka Issetiabudi - Bisnis.com 01 Oktober 2019  |  15:12 WIB
Pertamina Integrasikan Proyek Langit Biru dengan Kilang Cilacap
Kilang Cilacap milik Pertamina - Reuters/Darren Whiteside

Bisnis.com, JAKARTA — PT Pertamina (Persero) mengintegrasikan operasional Proyek Langit Biru Cilacap (PLBC) dengan Kilang Cilacap. Hal ini ditandai dengan serah terima PLBC dari Direktorat Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia (MP2) kepada Direktorat Pengolahan Pertamina.

Serah terima dilakukan dengan penandatanganan berita acara serah terima oleh Project Coordinator PLBC dan General Manager RU IV Cilacap dan disaksikan oleh Direktur MP2, Ignatius Tallulembang dan Direktur Pengolahan Budi Santoso Syarif di Kilang Cilacap, Senin (30/9/2019).

Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Pertamina Ignatius Tallulembang mengatakan serah terima ini menandai beroperasinya PLBC di bawah pengelolaan Pertamina Refinery Unit (RU) IV Cilacap yang akan memproduksi lebih banyak bahan bakar minyak gasoline berkualitas standar EURO 4. 

“Dengan beroperasinya PLBC, kemampuan produksi produk Pertamax RON 92 di Kilang Cilacap meningkat signifikan menjadi 1,6 juta barel per bulan dari sebelumnya 1 juta barel," ujarnya dalam keterangan pers, Selasa (1/10/2019).  

Dengan beroperasinya PLBC, impor high octane mogas component (HOMC) sebagai komponen blending produk gasoline akan turun secara signifikan sehingga berdampak positif pada upaya pemerintah memperkuat cadangan devisa negara.

Adapun PLBC yang menelan investasi US$392 juta tersebut memiliki lingkup pekerjaan, antara lain revamping unit platforming I sehingga kapasitas produksi meningkat 30% menjadi 18,6 MBSD dan pembangunan unit baru LNHT - isomerization dengan kapasitas desain 21m5 MBSD serta pembangunan beberapa unit utilities untuk mendukung unit proses PLBC.

PLBC merupakan lanjutan dari pembangunan residual fluid catalytic cracker (RFCC) Cilacap yang selama 4 tahun pengerjaan proyek, pencapaian jam kerja aman tanpa lost time injury (LTI) mencapai 17 juta jam kerja.

Direktur Pengolahan Pertamina Budi Santoso Syarif mengatakan Kilang Cilacap merupakan salah satu kilang besar Pertamina yang berperan dalam menjaga swasembada dan kemandirian energi nasional.

"Dengan beroperasinya PLBC yang terintegrasi dengan Kilang Cilacap yang mempunyai kapasitas olah crude sekitar 33,4% dari total kapasitas kilang nasional, akan meningkatkan profit Kilang Cilacap” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pertamina, Kilang Cilacap

Editor : Lucky Leonard

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top