Bank Indonesia: Kebakaran Hutan Ancam Pertumbuhan Ekonomi

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tengah mengamuk Indonesia dinilai dapat mengganggu pertumbuhan ekonomi jika permasalahan ini terus terjadi.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 25 September 2019  |  16:00 WIB
Bank Indonesia: Kebakaran Hutan Ancam Pertumbuhan Ekonomi
Presiden Joko Widodo (kanan) didampingi Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian meninjau penanganan kebakaran lahan di Desa Merbau, Kecamatan Bunut, Pelalawan, Riau, Selasa (17/9/2019) - ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tengah mengamuk Indonesia dinilai dapat mengganggu pertumbuhan ekonomi jika permasalahan ini terus terjadi.

Menurut Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo, kebakaran hutan dan lahan yang menyebabkan gangguan asap, jika berkepanjangan, tentunya akan berdampak pada kegiatan ekonomi dan bisnis.

“Oleh karena itu, kami sepenuhnya mendukung langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah untuk mengatasi hal ini,” ujar Dody pada Rabu (25/9/2019), seperti dilansir dari Bloomberg.

Kebakaran, yang menyebabkan asap pekat di wilayah Indonesia, Malaysia, dan Singapura selama berpekan-pekan, telah mengubah langit menjadi merah di beberapa bagian dan mengganggu pertanian di dalam negeri.

Disertai musim kemarau yang lebih panjang dari biasanya dan kekeringan di beberapa bagian Indonesia, problematika karhutla telah membatasi produksi minyak sawit dan beras.

Namun BI, lanjut Dody, tetap memproyeksikan pertumbuhan di bagian bawah kisaran 5 persen - 5,4 persen pada tahun 2019, sebelum naik menuju titik tengah kisaran 5,1 persen -5,5 persen pada 2020.

“Dampak yang lebih sulit untuk diukur adalah sosial dan dampak lingkungan yang lebih bersifat jangka panjang, termasuk dampak pada kesehatan masyarakat, dampak pada kegiatan pendidikan yang telah terganggu, dan kerusakan lingkungan,” terangnya.

Meski masih terlalu dini untuk memperhitungkan pengaruhnya terhadap pertumbuhan, sebuah laporan Bank Dunia yang diterbitkan setelah kebakaran hutan pada tahun 2015 menyebutkan biaya krisis kabut sebesar US$16 miliar.

Nilai tersebut setara dengan 1,9 persen dari PDB (produk domestik bruto) pada masa itu dan dua kali jumlah yang dibutuhkan untuk pembangunan kembali pascatsunami yang mengempaskan sebagian wilayah Indonesia pada 2004.

Kebakaran hutan menjadi beban tambahan terhadap perekonomian yang telah terdampak perlambatan global dan eskalasi perang dagang antara Amerika Serikat dan China. Inflasi makanan, yang sudah mendekati level tertinggi tiga tahun, juga berisiko.

“Harga makanan di seluruh wilayah telah menghadapi tekanan dari cuaca buruk terutama di sekitar wilayah Mekong, serta pandemi demam babi Afrika yang memburuk di China dan Vietnam,” kata Koh Hui Koon dan Darren Tay, Country Risk Analyst Fitch Solutions.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Pertumbuhan Ekonomi, Karhutla

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top