Wood Mackenzie : Masa Keemasan Batu Bara Akan Berakhir Mulai 2027

Lembaga riset energi Wood Mackenzie menyebut masa keemasan batu bara sebagai bahan bakar dalam pembangkit listrik diperkirakan akan berada pada masa puncak hingga 2027 sebelum akhirnya melambat, khususnya di wilayah Asia Tenggara.
David Eka Issetiabudi
David Eka Issetiabudi - Bisnis.com 25 September 2019  |  16:12 WIB
Wood Mackenzie : Masa Keemasan Batu Bara Akan Berakhir Mulai 2027
Pekerja beraktivitas di area pertambangan batu bara PT Adaro Indonesia, di Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, Selasa (17/10). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Lembaga riset energi Wood Mackenzie menyebut masa keemasan batu bara sebagai bahan bakar dalam pembangkit listrik diperkirakan akan berada pada masa puncak hingga 2027 sebelum akhirnya melambat, khususnya di wilayah Asia Tenggara.

Peneliti Wood Mackenzie Jacqueline Tao mengatakan narasi tentang masa depan batu bara dipenuhi nada pesimistis di seluruh dunia.

"Kami akan mulai melihat penurunan daya batu bara pasca 2030 dengan [mempertimbangkan] adanya peningkatan permintaan listrik dan isu harga listrik yang terjangkau di Asia Tenggara," tuturnya dalam keterangan tertulis, Rabu (25/9/2019).

Dengan adanya permintaan daya yang pesat, investasi pembangkit listrik yang perlu digelontorkan setidaknya senilai US$17 miliar per tahun di Asia Tenggara. Sebagian besar investasi pembangkit jangka menengah akan didominasi oleh pembangkit berbahan bakar batu bara sebelum diambil alih oleh investasi pembangkit berbahan gas.

Penyerapan batu bara juga akan menurun seiring menurunnya biaya energi terbarukan dan tekanan isu lingkungan. Pada 2040, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan bayu (PLTB) akan memimpin bauran energi dengan kapasitas daya sebesar 35% atau 205 gigawatt (GW).

Pada saat itu, total permintaan daya di Asia Tenggara diperkirakan mencapai 2,46 petawatt per jam (PWh) atau berlipat dari daya pada 2018 sebesar 1,05 PWh.

Tao menambahkan secara kolektif investasi pembangkit tenaga bayu dan surya mencapai 23% dari total investasi pembangkit listrik yang berjumlah lebih US$89 miliar pada 2019 hingga 2040.

"Hal ini terjadi walaupun energi terbarukan menjadi kurang kompetitif di Asia Tenggara dibandingkan dengan wilayah lainnya dan ini juga menjadi tantangan seperti masalah pembebasan lahan," tambahnya.

PERMINTAAN GAS

Sementara itu, permintaan gas bumi terus tumbuh meski prospek pasokan gas di Asia Tenggara terhambat karena banyak ladang yang sudah matang mengalami penurunan. Negara-negara di kawasan ini akan mengimpor lebih dari 100 juta ton per tahun (mmtpa) gas alam cair pada 2036.

Permintaan  LNG tersebut mewakili peningkatan hampir 10 kali lipat dari impor 10 mmtpa pada tahun lalu. Wood Mackenzie memperkirakan perlu adanya investasi besar dalam infrastruktur regasifikasi LNG di Asia Tenggara.

Hanya saja, persentase gas yang diharapkan sebagai bahan bakar transisi dalam pengembangan pembangkit listrik diperkirakan berkontribusi stabil di angka 30% hingga 2040.

Adapun permintaan gas di Asia Tenggara akan tumbuh dari 14 miliar kaki kubik per hari (bcfd) pada 2018 menjadi 23 bcfd pada 2040 didukung adanya ekspansi infrastruktur berkelanjutan di Thailand, Vietnam, Indonesia.

Khusus Indonesia dan Vietnam, Tao menambahkan dengan pertumbuhan ekonomi yang kuat, populasi yang berkembang dan berkembangnya kelas menengah, permintaan listrik akan meningkat tiga kali lipat menjadi 1,44 PWh pada 2040.

Dengan begitu, dua negara ini akan menjadi penyumbang permintaan daya sebesar 60% di Asia Tenggara.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
batu bara, lng

Editor : Lucky Leonard

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top