Industri Mamin Kekurangan Pasokan Garam

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan kuota impor garam untuk kebutuhan industri tahun ini tidak memasukkan proyeksi pertumbuhan sektor manufaktur.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 25 September 2019  |  06:48 WIB
Industri Mamin Kekurangan Pasokan Garam
Petani garam Amed memanen garam menggunakan alat tradisional. JIBI - BISNIS/Feri Kristianto

Bisnis.com, JAKARTA –  Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan kuota impor garam untuk kebutuhan industri tahun ini tidak memasukkan proyeksi pertumbuhan sektor manufaktur.

Alhasil, beberapa sektor manufaktur mengalami kekurangan garam untuk kebutuhan produksi, salah satunya industri makanan dan minuman (mamin).

Direktur Industri Kimia Hulu Kemenperin Fridy Juwono mengatakan seluruh kuota yang diberikan pada sektor manufaktur aneka pangan telah terealisasi seluruhnya yakni 350.000 ton.

Adapun, kuota yang diusulkan pada awal tahun adalah 550.000 ton. Walaupun industri mamin menyatakan kekurangan pasokan garam, Fridy mengatakan pemerintah tidak menambah kuota impor garam tahun ini atau sebesar 2,7 juta ton.

Kementerian meminta agar manufaktur sektor klor alkali (chlor alcali plant/CAP) agar tidak memaksimalkan proses produksinya agar garam yang dipakai dapat digunakan oleh industri mamin. Kemenperin mendata industri CAP membutuhkan lebih dari 2,5 juta ton garam dengan kadar natrium chlorida (NaCl) lebihi dari 96%.

“Ternyata ada peluang [untuk merelokasi garam dari industri CAP ke mamin]. Mereka tidak bisa merealisasikan [serapan garam] karena produksi tidak tercapai karena ada kejadian blackout kemarin.[Kuota garam untuk produksi selama] tiga minggu kami geser [ke industri mamin],” ujarnya, Selasa (24/9/2019).

Berdasarkan data Kemenperin, industri menufaktur mendominasi konsumsi garam sebesar  83,7% atau sebanyak 3,5 juta ton pada tahun ini. Artinya, industri CAP mendominasi konsumsi garam sebesar 67,86%, diikuti oleh industri mamin sebesar 30,35% atau sejumlah 1,1 juta ton.

Fridy menyampaikan pihaknya akan mendorong penggunaan garam lokal pada industri mamin yang dapat menjaga kualitas produk dengan kadar garam di level 94%. Adapun, jumlah garam dengan kadar NaCl 94% hanya sekitar 300.000 ton. Oleh karena itu, Fridy mengutarakan pihaknya akan melakukan ekstensifikasi produksi garam dengan memanfaatkan lahan seluas 3.500 hektar di Nusa Tenggara Timur.

Wakil Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Ribut Purwanti mengatakan pasokan garam pada industri mamin penting mengingat proses produksi industri mamin berjalan terus menerus. Selain itu, kadar NaCl garam juga penting untuk menjaga kualitas hasil produksi.

“Kalau memakai garam yang tidak bersih [pada produk mamin] ada bintik-bintik hitam. Jadi, kalau bisa menyerap produk lokal bisa kalau sesuai dengan [spesifikasi] produk,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri mamin, impor garam

Editor : Galih Kurniawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top