PLTS Atap Mulai Menjamur, Pendapatan PLN Bisa Turun

PT PLN (Persero) menyatakan potensi kehilangan pendapatan akibat pemasangan PLTS atap yang dilakukan oleh pelanggan mencapai kisaran 20%. 
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 24 September 2019  |  14:46 WIB
PLTS Atap Mulai Menjamur, Pendapatan PLN Bisa Turun
Pekerja membersihkan panel Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di pondok pesantren Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Wali Barokah di Kota Kediri, Jawa Timur, Kamis (16/5/2019). Pembangunan PLTS senilai Rp10 miliar dengan panel surya seluas 41 meter x 40 meter tersebut mampu menghasilkan listrik 220.000 Watt per hari. - ANTARA / Prasetia Fauzani

Bisnis.com, JAKARTA — PT PLN (Persero) menyatakan potensi kehilangan pendapatan akibat pemasangan PLTS atap yang dilakukan oleh pelanggan mencapai kisaran 20%. 

Meskipun demikian, General Manager PLN Unit Induk Distribusi Jakarta Raya M. Ikhsan Asaad mengatakan perseroan tetap mendukung pemasangan PLTS atap karena berkaitan dengan peningkatan bauran energi 23% pada 2025. Pengurangan pendapatan tersebut sebagai konsekuensi gaya hidup masyarakat yang mulai beralih ke energi baru terbarukan (EBT).

PLN pun saat ini sedang menyiapkan bisnis model untuk ikut terjun pada pemasangan PLTS atap. Dengan demikian, tidak menutup kemungkinan PLN terlibat mulai dari pemasangan hingga ekspor impor kelebihan daya PLTS atap. 

Rencananya, skema bisnis tersebut dirilis tahun ini. "Itu kan lifestyle, mengurangi 20%-30% [pendapatan] itu kan wajar, tetapi PLN akan masuk ke sana untuk masuk dalam bagian ekosistem tersebut," katanya kepada Bisnis, Senin (23/9/2019).

Ikhsan menegaskan dengan sifat PLTS atap yang intermiten atau tidak stabil, investasi pembangkit berkapasitas besar seperti program 35.000 MW tetap harus dilakukan. Tujuannya untuk memastikan keandalan listrik yang dipasokan ke masyarakat. 

Pasalnya, kerja optimal PLTS atap hanya berlaku pada pukul 11 siang hingga 2 sore. Selebihnya, kinerja PLTS atap bisa berkurang, termasuk ketika memasuki musim hujan. 

Apalagi, tarif listrik yang murah hingga saat ini masih dijamin oleh pembangkit dengan energi batu bara. Penggunaan PLTS atap dinilai masih masuk kategori murah karena baru hanya bisa bekerja sekitar 3 hingga 5 jam saja. 

"Kami mendukung 23% EBT pada 2025, tetapi kami juga melihat sifat intermiten ini, tidak mungkin bisa beroperasi 24 jam sehari. Tarif listrik bisa murah masih dari batu bara," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
PLN, energi terbarukan

Editor : Lucky Leonard

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top