LAPORAN DARI CHINA: Perluasan Protokol Buah Dijanjikan Kelar Tahun Ini

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menjanjikan perluasan protokol kerja sama perdagangan buah dengan China bakal kelar tahun ini.
Gajah Kusumo
Gajah Kusumo - Bisnis.com 22 September 2019  |  06:01 WIB
LAPORAN DARI CHINA: Perluasan Protokol Buah Dijanjikan Kelar Tahun Ini
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan dan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita saat mengunjungi salah satu stan di Paviliun Komoditas di The 16th China-ASEAN Expo (CAEXPO) dan The 16th China-ASEAN Business and Investment Summit (CABIS), Sabtu (21/9/2019). - Bisnis/Gajah Kusumo

Bisnis.com, NANNING, China — Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menjanjikan perluasan protokol kerja sama perdagangan buah dengan China bakal kelar tahun ini.

“Kami sempat berbincang-bincang untuk meningkatkan ekspor ke China, diantaranya produk buah-buahan. Potensi pasar buah-buahan kita itu sangat besar.  Itu harus segera dibuka. Tahun ini sudah harus [dibuka],” ujarnya seusai pembukaan The 16th China-ASEAN Expo (CAEXPO) dan The 16th China-ASEAN Business and Investment Summit (CABIS), Sabtu (21/9/2019).

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan buah-buahan yang protokolnya belum disetujui, yaitu nanas, mangga, durian, alpukat, dan salak.

“Pada 1 bulan yang lalu saya ke Beijing untuk membicarakan soal buah-buahan kita dan sudah dijanjikan segera [akan disetujui]. Protokolnya lama. Nah tadi Pak Luhut sudah meminta tindak lanjutnya,” ujarnya usai mendampingi Menko Maritim, yang juga bertindak sebagai pimpinan Delegasi Indonesia.

Adapun, protokol buah yang telah dijalin Indonesia dengan China, yaitu manggis, buah naga, dan pisang.

Adapun, salah satu persoalan yang menghambat potensi ekspor komoditas, selain manggis dan buah naga, ke China adalah ketentuan Good Agricultural Practices (GAP) yang kurang berpihak pada buah-buahan tropis. Dia menyebutkan, ketentuan dalam GAP selama ini lebih banyak didasarkan pada buah nontropis.

Selain itu, komoditas buah tropis asal Indonesia juga masih mengalami kendala dalam hal kualitas dan kandungan pestisida yang dinilai terlalu tinggi di negara lain. Kondisi itu membuat buah-buahan RI kesulitan mendapatkan izin ekspor dari negara tujuan, diantaranya Negeri Panda.

Beberapa waktu lalu, Ketua Umum Asosiasi Eksportir-Importir Buah dan Sayuran Segar Indonesia (Aseibssindo) Khafid Sirotuddin pernah mengatakan pemerintah perlu menambah jumlah buah asal RI untuk dikerja samakan dengan China.

“Maka dari itu, perluasan protokol kerja sama ini penting untuk menjamin keberlangsungan ekspor kita ke negara tujuan. Di sisi lain, pemerintah juga perlu mengembangkan perkebunan untuk buah-buahan potensial namun belum kontinyu produksinya seperti pisang dan salak. Supaya ketika dibuka akses pasarnya, volume ekspornya termaksimalkan,” ujarnya kala itu.

Adapun, berdasarkan data Trade Map, nilai ekspor buah manggis segar yang tergabung dalam kode harmonized system (HS code) 0804 bersama buah lain seperti nanas, alpukat, jambu biji, dan mangga ke China mencapai US$10,74 juta pada 2018. Nilai ekspor tersebut melonjak drastis dari 2017 yang hanya US$73.000 dan US$106.000 pada 2016.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
china, asean

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top