BI Relaksasi Kebijakan Makroprudensial, Berikut Perinciannya

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, guna memperkuat bauran kebijakan, hasil Rapat Dewan Gubernur September 2019, memutuskan untuk merelaksasi kebijakan makroprudensial sehingga bisa meningkatkan kapasitas penyaluran kredit perbankan dan mendorong permintaan kredit pelaku usaha.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 19 September 2019  |  15:48 WIB
BI Relaksasi Kebijakan Makroprudensial, Berikut Perinciannya
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo

Bisnis.com, JAKARTA - Bank Indonesia kembali melonggarkan kebijakan makroprudensial untuk menstimulus sektor riil dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, guna memperkuat bauran kebijakan, hasil Rapat Dewan Gubernur September 2019, memutuskan untuk merelaksasi kebijakan makroprudensial sehingga bisa meningkatkan kapasitas penyaluran kredit perbankan dan mendorong permintaan kredit pelaku usaha.

Secara terperinci, Perry menyatakan BI merincikan pengaturan Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) atau RIM Syariah disempurnakan dengan menambahkan komponen pinjaman atau pembiayaan yang diterima bank, sebagai komponen sumber pendanaan bank dalam perhitungan RIM/RIM Syariah.

Perry juga menyatakan, Bank Indonesia juga melakukan pelonggaran yakni; Rasio Loan to Value atau Financing to Value (LTV/FTV) untuk kredit atau pembiayaan Properti sebesar 5%, Uang Muka untuk Kendaraan Bermotor pada kisaran 5 sampai 10%, serta Tambahan keringanan rasio LTV/FTV untuk kredit atau pembiayaan properti dan Uang Muka untuk Kendaraan Bermotor yang berwawasan lingkungan masing-masing sebesar 5%.

Perry menyatakan, ketentuan tersebut berlaku efektif sejak 2 Desember 2019.

Sementara itu, kebijakan sistem pembayaran dan pendalaman pasar keuangan terus diperkuat guna mendukung pertumbuhan ekonomi.

"Ini adalah upaya untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan langkah pre-emptive tetap bisa terjaga khususnya pertumbuhan ekonomi domestik di tengah ekonomi global yang melambat," jelasnya.

Asal tahu saja dalam hasil penelusuran Bisnis.com, para ekonom dan analis memprediksi ada beragam keputusan Rapat Dewan Gubernur BI pada bulan ini.

Sejumlah ekonom menyebut BI akan menahan suku bunga seiring dengan ketidakpastian global akibat perang dagang memanas hingga efek meledaknya pabrik minyak Aramco yang ditengarai bisa meningkatkan inflasi. Opsi lain yang dilakukan adalah melakukan pelonggaran kebijakan makroprudensial.

Ekonom lain yang menyebut BI menurunkan suku bunga menilai ekonomi domestik Indonesia cukup kuat terlihat dari inflasi yang terkendali.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kebijakan makroprudensial

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top