The Fed Diprediksi Pangkas Suku Bunga Dua Kali Lagi, Kemudian…

Bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve diprediksi akan memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin masing-masing pada pekan depan dan Desember tahun ini.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 13 September 2019  |  17:14 WIB
The Fed Diprediksi Pangkas Suku Bunga Dua Kali Lagi, Kemudian…
Presiden AS Donald Trump (kiri) bersama Jerome Powell, Gubernur The Fed. - Reuters/Carlos Barria

Bisnis.com, JAKARTA – Bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve diprediksi memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin masing-masing pada pekan depan dan Desember tahun ini.

Setelah langkah pemangkasan itu, The Fed diperkirakan mempertahankan rentang target suku bunga acuannya pada 1,5 persen -1,75 persen untuk jangka waktu yang panjang, menurut ekonom dalam survei Bloomberg.

“The Fed tidak ingin menanggung perang perdagangan yang sedang berlangsung, tetapi tidak memiliki pilihan selain mencoba melindungi ekonomi dari dampak buruk meningkatnya ketidakpastian perdagangan dan tarif,” tulis Kathleen Bostjancic, ekonom di Oxford Economics di New York.

Dalam jajak pendapat terhadap 35 ekonom pada 9 - 11 September, responden menurunkan proyeksi mereka untuk arah suku bunga AS dibandingkan dengan survei serupa pada Juli.

Namun, mereka dengan tegas menampik gagasan bahwa Federal Reserve telah memulai serangkaian langkah yang akan terbukti lebih lama ketimbang "penyesuaian pertengahan siklus" yang diprediksi oleh Gubernur The Fed Jerome Powell pada Juli.

Saat itu, Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade melakukan pemangkasan suku bunga.

Investor juga memperkirakan FOMC akan kembali memangkas suku bunga ketika para pembuat kebijakan mengadakan rapat kebijakan moneter di Washington pada 17-18 September.

Powell dan yang lainnya terus berbicara tentang meningkatnya risiko terhadap ekonomi yang ditimbulkan oleh perselisihan perdagangan internasional dan melambatnya pertumbuhan global, serta inflasi domestik yang masih di bawah target.

Pada saat yang sama, Powell menegaskan bahwa tidak mengharapkan AS ataupun negara-negara lain akan tersandung ke dalam resesi.

Para responden juga mengidentifikasi perselisihan perdagangan internasional sebagai ancaman terbesar bagi pertumbuhan ekonomi AS hingga akhir tahun depan, diikuti oleh melemahnya permintaan global.

Namun, hanya dua responden yang memperkirakan langkah pemangkasan yang sedang berlangsung pada akhirnya akan membawa tingkat suku bunga menjadi nol dan hanya satu yang memperkirakan The Fed akan menurunkan suku bunga nominal di bawah nol.

Survei itu juga memintakan pendapat para ekonom tentang bagaimana The Fed kemungkinan akan merespons jika, dalam kondisi resesi, para pejabat meyakini bahwa menurunkan suku bunga menjadi nol tidak akan cukup untuk menghidupkan kembali perekonomian.

Mayoritas mengatakan The Fed akan kembali memberikan panduan ke depan yang eksplisit dan melakukan pembelian aset berskala besar, atau pelonggaran kuantitatif.

Sebagian ekonom yang disurvei mengatakan para pejabat akan beralih ke kontrol kurva hasil, versi QE yang melibatkan penetapan target imbal hasil untuk surat-surat berharga jangka panjang.

Dan seperti dalam survei sebelumnya, para ekonom secara bulat menolak gagasan bahwa kritik yang dilancarkan Presiden Donald Trump secara terang-terangan terhadap The Fed akan memengaruhi pengambilan keputusan kebijakan moneter otoritas moneter AS ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Kebijakan The Fed

Sumber : Bloomberg

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top