Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Produksi Tempe Bisa Melesat Tahun Depan

Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) menyatakan produksi tempe dan tahu di dalam negeri dapat melesat dua kali lipat dala 5—10 tahun mendatang, Hal tersebut disebabkan oleh peluang ekspor ke Amerika Serikat.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 10 September 2019  |  04:44 WIB
Perajin membuat tempe berbahan baku kedelai impor di kampung sukamaju, Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin (16/7/2018). - ANTARA/Adeng Bustomi
Perajin membuat tempe berbahan baku kedelai impor di kampung sukamaju, Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin (16/7/2018). - ANTARA/Adeng Bustomi

Bisnis.com, JAKARTA — Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) menyatakan produksi tempe dan tahu di dalam negeri dapat melesat dua kali lipat dala 5—10 tahun mendatang, Hal tersebut disebabkan oleh peluang ekspor ke Amerika Serikat. 

Ketua Gakoptindo Aip Syarifudin mengatakan pertumbuhan produksi tahu dan tempe pada semester I/2019 hanya 3—4%. Adapun, pertumbuhan tersebut akan berlanjut hingga akhir tahun yakni sebesar 3%--4%.

Menurutnya, distribusi ke pasar global dapat membuat pertumbuhan produksi tempe dan tahu nasional menjadi 5%-10%.

“Minggu lalu saya baru dari Amerika Serikat. Eksportir kedelai di sana welcome menerima kedelai mereka kembali dalam bentuk tempe,” katanya kepada Bisnis, Senin(9/9/2019).

Aip menambahkan volume produksi tempe dan tahu hingga akhir tahun ini dapat mencapai 5,7 juta ton dari realisasi tahun lalu sejumlah 5,5 juta ton.

Menurutnya, distribusi tempe dan tahu ke pasar Amerika Serikat dapat membuat produksi tempe dan tahu menjadi 6 juta ton hingga 6,2 juta ton.

Selain itu, Aip menilai neraca kedelai terhadap Amerika Serikat pun dapat positif. Tahun ini, lanjutnya, pengrajin tempe dan tahu nasional mengimpor sekitar 1,67 juta ton kedelai dari Amerika Serikat.

Sementara itu, kedelai lokal hanya mampu memasok 500.00 ton per tahun atau sekitar 23,04%.

Aip berujar nilai impor kedelai dari Amerika Serikat pada tahun ini sekitar US$800 juta—US$1 miliar. Menurutnya, neraca dagang kedelai dapat menjadi positif dengan Amerika Serikat dengan adanya upaya ekspor tempe dan tahu tersebut.

“Tapi tidak serta merta. Dalam 5—10 tahun baru bisa seimbang,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tempe
Editor : Akhirul Anwar
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top