Mengapa Selisih Pendapatan Pekerja Pariwisata di Bali dan Singapura Sangat Tinggi?

Global Destination Cities Index 2019 yang dirilis oleh Mastercard mencatat setiap tambahan 1.000 kunjungan wisatawan ke Bali berhasil menyerap 409,3 tenaga kerja baru dengan rerata pendapatan per pekerja hanya US$2.620.
Rezha Hadyan
Rezha Hadyan - Bisnis.com 09 September 2019  |  04:25 WIB

Bisnis.com, JAKARTA -- Global Destination Cities Index 2019 yang dirilis oleh Mastercard mencatat setiap tambahan 1.000 kunjungan wisatawan ke Bali berhasil menyerap 409,3 tenaga kerja baru dengan rerata pendapatan per pekerja hanya US$2.620.

Capaian itu berbanding terbalik dengan di Singapura yang hanya menyerap 12,1 tenaga kerja baru setiap tambahan 1.000 kunjungan wisatawan, tetapi pendapatan rata-rata per pekerja di sektor turisme mencapai  US$93.062.

Hal tersebut tentu menjadi pertanyaan lantaran rerata belanja kedua negara nilainya tak jauh berbeda. Nilai rerata belanja wisatawan ke Indonesia sebesar US$1.072 dan Singapura sebesar US$1.124.

Rendahnya pendapatan per pekerja dinilai menandakan masih rendahnya produktivitas pekerja pariwisata di Bali, destinasi yang menjadi tulang punggung sektor pariwisata di Tanah Air.

Ketua Ikatan Cendekia Pariwisata Indonesia (ICPI) Azril Azhari mengatakan, tingginya penyerapan tenaga kerja di sektor pariwisata Bali yang tidak diimbangi oleh tingginya pendapatan tenaga kerja merupakan salah satu bukti dari ketertinggalan sektor pariwisata di Indonesia.

Saat ini pemerintah dinilai hanya fokus pada target kunjungan wisatawan semata tanpa memperhatikan lebih lanjut kualitas dari destinasi wisata yang ditawarkan, termasuk kualitas sumber daya manusia (SDM).

Selain itu, kurangnya keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan fasilitas penunjang di destinasi wisata juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi rendahnya rerata upah pekerja pariwisata.

“Masyarakat setempat kurang dilibatkan, pemerintah terus menerus menarik investor untuk mengembangkan fasilitas [di destinasi wisata} yang pastinya akan mengambil keuntungan sebesar-besarnya dari kegiatan pariwisata, keuntungan bagi masyarakat ada, tapi tak banyak,” kata Azril kepada Bisnis.com, baru-baru ini.

Lebih lanjut, Azril menilai, sudah seharusnya pemerintah melibatkan masyarakat setempat secara langsung dalam pengembangan fasilitas penunjang di destinasi wisata untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

Keterlibatan masyarakat setempat secara langsung terbukti berhasil meningkatkan kualitas dari suatu destinasi wisata.

“Pengelolaan yang community based, contohnya salah satu resort yang ada di Sumba itu termasuk dalam salah satu yang terbaik di dunia, memang ada [keterlibatan] orang asing, tapi masyarakat yang punya andil besar, pekerja pariwisata disana kualitas dan produktivitasnya meningkat,” ungkapnya.

Sementara itu, Wakil Ketua DPP Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Rudiana Jones menilai tingginya penyerapan tenaga kerja baru per 1.000 kunjungan wisatawan di Bali merupakan bukti tidak efisiennya pengelolaan sektor pariwisata.

“Efisiensinya kurang, di negara-negara maju tiga pekerjaaan bisa dikerjakan oleh satu orang sekaligus, di kita? Bisa dilihat, sopir sendiri, guide sendiri, yang angkat koper ya ada lagi, ada juga satu guide itu untuk jumlah wisatawan yang sedikit, di negara lain mungkin tak begitu,” katanya kepada Bisnis, Kamis (5/9).

Namun, tingginya penyerapan tenaga kerja per 1.000 kunjungan menurut Rudiana merupakan hal yang lumrah terjadi di negara-negara berkembang. Pasalnya, salah satu tujuan dari pengembangan sektor pariwisata di negara berkembang adalah menyerap tenaga kerja sebanyak-banyaknya walaupun kompetensinya sangat rendah.

“Pariwisata yang masih berbasis padat karya, kompetensi rendah, tentunya pendapatan juga ikut rendah, penggunaan teknologi belum masif, tapi ya mau bagaimana? Ada oversupply tenaga kerja, masih banyak yang menganggur,” papar Rudiana.

Menurunnya kualitas wisatawan yang datang ke Bali disinyalir sebagai salah satu faktor yang ikut mempengaruhi rendahnya pendapatan tenaga kerja di sektor pariwisata. Rendahnya kualitas wisatawan berimbas pada rendahnya pengeluaran wisatawan selama berkunjung ke Bali.

Saat ini Bali dibanjiri oleh wisatawan menengah kebawah yang berwisata dengan biaya seminim mungkin atau backpacker. Menurut Azril, banjirnya wisatawan backpacker ke Bali tak banyak berkontribusi terhadap pendapatan masyarakat yang mengandalkan sektor pariwisata.

“Bagaimana kita mau dapat pendapatan besar? Turis yang masuk itu turis-turis backpacker, spending-nya rendah, jumlah banyak tapi tidak ada spending belanja, kuliner diluar akomodasi ya percuma,” kata Azril.

Oleh karena itu, dia meminta agar pemerintah tidak hanya sibuk melakukan branding pariwisata untuk mencapai target kunjungan tanpa mempertimbangkan kualitas wisatwan yang datang.

Menurutnya sektor pariwisata tidak hanya bisa dipandang sebagai masuknya devisa ke Tanah Air semata, perlu dipertimbangkan juga seberapa besar kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

“Saya pernah menemukan ada turis low budget yang hanya makan mi instan, tak belanja, kalau terlalu banyak yang seperti itu buat apa?” kata Azril.

Senada dengan Azril, Rudiana menyebut menurunnya kualitas wisatawan yang berkunjung ke Bali ikut mempengaruhi pendapatan masyarakat yang mengandalkan sektor pariwisata. Dia mencontohkan, wisatawan asal Tiongkok yang saat ini membanjiri Bali pengeluarannya bisa dikatakan rendah.

“Mereka datang tak membeli souvenir, kalaupun membeli souvenir hanya membeli gantungan kunci yang murah, bukan lagi lukisan yang harganya tentu lebih tinggi,” katanya.

Lebih lanjut, Rudiana menjelaskan faktor lain yang ikut mempengaruhi rendahnya pengeluaran wisatawan selama berkunjung di Bali adalah turunnya daya beli akibat lesunya kondisi perekonomian global. Kelesuan tersebut menurutnya ikut mempengaruhi lamanya waktu tinggal wisatawan yang berkunjung ke Bali.

“Saat ini waktu tinggal wisatawan mengalami penurunan, daya beli turun, expeniture juga berkurang,” tegasnya.

Berdasarkan data Mastercard Global Destination Cities Index 2019, rerata waktu kunjungan wisatawan ke Bali berada di angka 8,6 hari dengan rerata pengeluaran harian sebesar US$125. 

Pendapatan pekerja pariwisata

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bali, pariwisata, pariwisata bali

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top