Indonesia Jajaki Perdagangan Bebas dengan Enam Negara Teluk

Indonesia menjajaki kemungkinan pembentukan pengaturan kerangka kemitraan ekonomi, termasuk perjanjian perdagangan bebas (FTA), dengan enam negara-negara Arab Teluk yang tergabung dalam GCC.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 28 Agustus 2019  |  14:31 WIB
Indonesia Jajaki Perdagangan Bebas dengan Enam Negara Teluk
Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi menerima kunjungan Sekretaris Jenderal Gulf Cooperation Council of the Arab States (GCC) Abdul Latif bin Rashid Al-Zayani dalam rangka penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) mengenai Mekanisme Konsultasi antara Pemerintah RI dan Sekretariat GCC di Kantor Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Rabu (28/8/2019) - Denis Riantiza M

Bisnis.com, JAKARTA - Indonesia menjajaki kemungkinan pembentukan pengaturan kerangka kemitraan ekonomi, termasuk perjanjian perdagangan bebas (FTA), dengan enam negara-negara Arab Teluk yang tergabung dalam GCC.

Usulan pembentukan kerangka kemitraan ekonomi tersebut disampaikan oleh Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi saat menerima kunjungan dari Sekretaris Jenderal Gulf Cooperation Council of the Arab States (GCC) Abdul Latif bin Rashid Al-Zayani di Kantor Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Rabu (28/8/2019).

"Kami usulkan ada baiknya kami memiliki, seperti FTA atau CEPA, antar Indonesia dengan enam negara GCC karena ini bagus sekali," ujar Retno kepada wartawan.

Menurutnya, pembentukan FTA (Free Trade Agreement) atau CEPA (Comprehensive Economic Partnership Agreement) sangat penting untuk meningkatkan akses perdagangan, penurunan hambatan kerja sama ekonomi, dan pada akhirnya dapat mendorong peningkatan investasi langsung negara-negara Teluk di Indonesia. Adapun negara-negara GCC terdiri atas Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.

Kemitraan Indonesia dan Negara Teluk terus berkembang. Dalam 2 tahun terakhir terjadi peningkatan perdagangan Indonesia dan negara teluk sebesar 40%, yakni dari US$8,68 miliar pada 2016 menjadi US$12,15 miliar pada 2018.

Pada saat yang sama, total investasi negara Teluk di Indonesia meningkat 26% dari US$60,3 juta pada 2016 menjadi US$76,1 juta pada 2018.

"Kami melihat ruang untuk meningkatkan cukup banyak, baik perdagangan atau investasi terutama di kita. Oleh karena itu, perlu wadah atau platform, seperti FTA," kata Retno.

Dalam pertemuan dengan delegasi GCC, Retno mengatakan bahwa pihaknya juga telah menyampaikan usulan untuk melakukan feasibility study mengenai pembentukan FTA atau CEPA. Dia mengaku GCC merespon positif usulan tersebut.

"Secara prinsip mereka respon baik. Karena memang saat ini mereka sedang melakukan negosiasi dengan beberapa negara jadi kadang-kadang kalau bersamaan mereka kesulitan membagi tenaga. Setidaknya kita sudah sampaikan dan responnya cukup positif," katanya.

Adapun salah satu agenda utama kunjungan kerja Sekretaris Jenderal GCC di Jakarta pada 27 – 30 Agustus 2019 adalah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) mengenai Mekanisme Konsultasi antara Pemerintah RI dan Sekretariat GCC. Forum ini akan menjadi wadah konsultasi Indonesia dan Negara Teluk untuk membahas secara regular berbagai perkembangan kerja sama ekonomi dan juga membahas perkembangan stabilitas dan keamanan di kawasan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perdagangan bebas

Editor : Sutarno
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top