Risiko Resesi Meningkat, Kepercayaan Bisnis Jerman Memburuk

Kepercayaan bisnis Jerman memperpanjang penurunannya dan meluncur ke level terlemah dalam hampir tujuh tahun
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 26 Agustus 2019  |  16:41 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Kepercayaan bisnis Jerman memperpanjang penurunannya dan meluncur ke level terlemah dalam hampir tujuh tahun, saat kemerosotan manufaktur yang semakin dalam membawa negara berekonomi terbesar di Eropa ini ke ambang resesi.

Seperti dilansir dari Bloomberg, indeks iklim bisnis yang diterbitkan Ifo Institute turun ke 94,3 pada Agustus 2019, menandai penurunan kelima berturut-turut. Raihan ini lebih lemah daripada konsensus ekonom dalam survei Bloomberg.

Ekonomi Jerman yang berpusat pada ekspor tengah bergulat karena memburuknya ketegangan perdagangan global. PDB negara ini mengalami kontraksi pada kuartal kedua. Bank sentral Jerman Bundesbank memperkirakan ekonomi akan kembali menyusut pada kuartal ketiga.

Sementara itu, sejumlah perusahaan ternama termasuk Henkel AG dan Siemens AG telah memperkirakan raihan laba yang lebih lemah. Pemerintah Jerman pun mengisyaratkan terbuka untuk stimulus fiskal jika penurunan saat ini berubah menjadi krisis yang lebih parah.

"Situasi menjadi semakin buruk,” ujar Clemens Fuest, Presiden Ifo Institute, dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg Television.

“Pelemahan yang difokuskan pada manufaktur kini menyebar ke sektor-sektor lain,” paparnya.

Meski awalnya terkonsentrasi di sektor otomotif, lanjut Fuest, kesuraman industri saat ini mencapai perusahaan kimia dan kelistrikan. Penyedia layanan, terutama yang berdekatan dengan manufaktur seperti logistik, juga merasakan kesulitan.

Momentum ekonomi telah terhenti selama setahun terakhir, dan tak banyak tanda situasi akan membaik dalam waktu dekat. Sebuah laporan terpisah pekan lalu menunjukkan pesanan-pesanan di pabrik dan perusahaan-perusahaan jasa turun dengan laju tercepat dalam enam tahun.

Sementara itu, prospek perdagangan semakin memburuk. Pada Jumat (23/8/2019), China menyatakan akan mengenakan tarif tambahan pada barang-barang senilai US$75 miliar asal AS sebagai balasan atas tarif yang direncanakan oleh Presiden Donald Trump.

Merespons langkah China tersebut, Trump tak ingin kalah untuk menaikkan bea impor. Meski demikian, pada Senin (26/8/2019), ia mengungkapkan bahwa para pejabat China meminta agara perundingan perdagangan antara kedua negara dimulai kembali.

Sejauh ini, Eropa telah terdampak konflik perdagangan secara tidak langsung. Tapi kawasan ini mungkin akan terseret ke dalam konflik jika pemerintah AS melancarkan ancaman bea masuk atas mobil, industri utama Jerman.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
EKONOMI JERMAN

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top