Mitigasi Gejolak Global, Pemerintah Andalkan Konsumsi Domestik

Makin tingginya tensi perang dagang menyebabkan pemerintah perlu mempertahankan konsumsi domestik dan belanja pemerintah serta menggenjot investasi.
Muhamad Wildan
Muhamad Wildan - Bisnis.com 26 Agustus 2019  |  15:29 WIB
Mitigasi Gejolak Global, Pemerintah Andalkan Konsumsi Domestik
Menteri Keuangan Sri Mulyani menjadi keynote speaker dalam The 14th Gaikindo International Automotive Conference di ICE BSD, Tangerang, Banten, Rabu (24/7). - BISNIS.COM/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA - Makin tingginya tensi perang dagang menyebabkan pemerintah perlu mempertahankan konsumsi domestik dan belanja pemerintah serta menggenjot investasi.

Per kuartal II/2019, konsumsi rumah tangga terus tumbuh pada angka 5,39% (yoy) didukung oleh momentum Ramadan, Idulfitri, dan libur sekolah.

Adapun pertumbuhan konsumsi pemerintah tumbuh signifikan pada kuartal II/2019 pada angka 8,23%, tertinggi sejak 2019.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menerangkan bahwa hal ini didorong oleh tingginya belanja pegawai, belanja barang, dan belanja lain-lain pada kuartal II/2019.

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dan Indeks Tendensi Bisnis (ITB) per kuartal II/2019 yang masing-masing mencapai 127,6 dan 106,4 juga menunjukkan bahwa sentimen perekonomian di pasar domestik positif.

Meski demikian, realisasi investasi per kuartal II/2019 masih belum optimal dan terbukti dengan pertumbuhan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) yang hanya tumbuh 5,01% (yoy).

Pertumbuhan ini lebih rendah dibandingkan dengan kuartal I/2019 yang mencapai 5,03% dan lebih rendah lagi dibandingkan dengan 2018 di mana pada kuartal I/2018 mampu mencapai 7,94%.

Rendahnya PMTB ini berbanding terbalik dengan capital inflow sejak selesainya Pemilu 2019.

Per Juli 2019, capital inflow secara kumulatif dalam menuju surat utang mencapai US$8,2 miliar dan dalam bentuk ekuitas mencapai US$4,8 miliar.

Capaian tersebut didorong oleh menariknya perekonomian domestik di mata global. Hal ini juga jauh lebih baik apabila dibandingkan dengan negara-negara tetangga.

Meski demikian, Sri Mulyani menekankan bahwa pertumbuhan capital inflow harus yang justru tidak tampak dalam pertumbuhan PMTB perlu diwaspadai.

"Seharusnya capital inflow itu bisa diterjemahkan dalam bentuk peningkatan PMTB. PMTB yang turun dari tahun ke tahun harus kita waspadai," ujar Sri Mulyani, Senin (26/8/2019).

Adapun untuk perdagangan internasional per kuartal II/2019 masih tertekan. Hal ini dibuktikan dengan pertumbuhan ekspor yang justru terkontraksi sebesar 1,81% (yoy) dan impor yang juga terkontraksi sebesar 6,73% (yoy).

Hal ini didorong oleh indeks harga komoditas yang terus tertekan sepanjang 2019 dan makin meningkatnya uncertainty economic index.

Apabila tren ini terus belanjut pada kuartal III/2019, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Suahasil Nazara menerangkan bahwa bagaimanapun ekspor akan terus tertekan dan dengan ini perekonomian domestik harus dijaga.

"APBN harus kita posisikan mendorong pertumbuhan dengan belanja yang baik, sedangkan penerimaan tadi kita lihat sedikit ada tantangan," ujarnya, Senin (26/8/2019).

Adapun hingga saat ini pertumbuhan ekonomi Indonesia masih stabil pada angka 5% dan dipandang lebih baik dibandingkan dengan negara-negara lain yang perekonomiannya terus tertekan akibat instabilitas global.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
konsumsi rumah tangga

Editor : Achmad Aris
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top