3 Pakta Dagang Dikebut Tahun Ini, Apa Saja?

Guna mengerek kinerja dagangnya, Indonesia menargetkan bakal menyelesaikan tiga perundingan kerja sama dagang dan ekonomi dengan negara-negara Asia Pasifik pada sisa tahun ini.
Yustinus Andri DP
Yustinus Andri DP - Bisnis.com 25 Agustus 2019  |  10:24 WIB

Bisnis.com, JAKARTA -- Guna mengerek kinerja dagangnya, Indonesia menargetkan bakal menyelesaikan tiga perundingan kerja sama dagang dan ekonomi dengan negara-negara Asia Pasifik pada sisa tahun ini.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, tiga perjanjian kerja sama dagang dan ekonomi tersebut meliputi Indonesia-Korea Selatan Comprehensive Economic Partnership Agreement (IK-CEPA), Indonesia-Taiwan Economic Cooperation Framework Agreement (IT-ECA) dan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP).

Dia menyebutkan, perundingan terhadap ketiga pakta kerja sama tersebut saat ini telah mencapai tahap akhir, sehingga sangat berpotensi untuk diselesaikan tahun ini.

“RCEP sangat berpotensi selesai tahun ini karena beberapa substansi pembahasan yang menyulitkan sudah diselesaikan. Sementara itu, IT-ECA dan IK-CEPA pembahasannya sangat cepat serta konstruktif. Target kami setelah selesai pembahasan tahun ini, ratifikasinya dapat selesai tahun depan sehingga bisa diimplementasikan paling cepat 2020,” ujarnya kepada Bisnis.com, belum lama ini.

Dia mengatakan, pakta kerja sama yang melibatkan negara-negara kawasan Asia Pasifik tersebut akan memberikan keuntungan yang besar kepada Indonesia lantaran skala ekonominya yang besar.

Menurutnya, selain memberikan keuntungan pada sektor perdagangan, arus investasi menuju Indonesia pun akan turut terdongkrak dengan terbentuknya pakta kerja sama tersebut.

Dia pun menyoroti kerja sama dengan Taiwan yang dinilainya dapat memberikan peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspornya ke negara tersebut. P

asalnya, dengan spesialisasi Taiwan sebagai negara industri teknologi tinggi, Indonesia dapat berkontribusi sebagai penyedia bahan baku industri tersebut, seperti komponen, besi dan baja, timah, nikel dan aneka produk kimia.

“Saya yakin, dengan adanya IT-CEPA ekspor kita akan melonjak, apalagi negara tersebut kabarnya akan menjadi lokasi utama pemindahan industri yang ada di China akibat perang dagang dengan AS, dengan nilai investasi US$200 miliar,” lanjutnya.

Selain itu, Menteri Enggartiasto mengatakan, Indonesia akan mendapatkan manfaat yang besar dari IK-CEPA melalui masuknya arus investasi asing dari Korsel.

Dia memprediksi, dengan masih tingginya tensi perselisihan politik antara Negeri Ginseng dengan Negeri Sakura, akan membuat  Korsel mencari lokasi investasi yang dapat dijadikan perantara untuk mengekspor produknya menuju Jepang.

Terlebih menurutnya, Indonesia memiliki hubungan yang sama baiknya dengan Jepang dan Korsel. Di sisi lain, Indonesia juga telah memiliki pakta kerja sama Indonesia-Jepang Economic Partnership Agreement (IJEPA), yang bakalmenjadi daya tarik tersendiri bagi Korsel.

“Sedangkan untuk RCEP, kita akan memiliki kontribusi yang lebih besar terhadap global value chain karena pakta kerja sama itu akan mencakup hampir 30% dari volume dan arus perdagangan dunia,” tegasnya.

Adapun, perundingan IK-CEPA sejatinya telah dilakukan sejak 2012 sebelum akhirnya terhenti pada 2014. Pada 2 Februari lalu, kedua negara sepakat mengaktifkan kembali perundingan yang tertunda tersebut.

Melalui pakta kerja sama bilateral tersebut nilai perdagangan kedua negara ditargetkan meningkat menjadi US$30 miliar pada 2022 dari tahun lalu yang mencapai US$18 miliar.

Di sisi lain, perundingan IT-CEPA tercatat dimulai pada 2018. Pemerintah menargetkan dengan adanya kerja sama tersebut total perdagangan Indonesia dan Taiwan dapat meningkat hingga 2 kali lipat dalam waktu dua hingga lima tahun pascaperjanjian tersebut diimplementasikan.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani mengatakan, dari ketiga pakta kerja sama tersebut, RCEP menjadi yang paling krusial untuk segera diselesaikan perundingannya. Dia mengatakan, RCEP akan menjadi solusi bagi RI menghadapi kondisi perekonomian global yang mulai melemah dan meningkatnya proteksionsime.

“Paling tidak, kita bisa mengamankan akses pasar kita ke kawasan yang menguasai 30% volume perdagangan dunia. Di sisi lain, kita juga bisa mempermudah arus investasi masuk dari 3 negara ekonomi utama Asia sekaligus yakni China, Korsel dan Jepang,” jelasnya, ketika dihubungi Bisnis, Kamis (22/8).

Dia mengakui, implementasi dari ketiga pakta kerja sama tersebut baru dapat dilaksanakan pada akhir 2020 atau 2021.

Namun, menurutnya, dengan selesainya proses negosiasi IK-CEPA, IT-ECA dan RCEP pada tahun ini, akan memberikan kepastian bagi para pengusaha untuk berancang-ancang memanfaatkan pakta kerja sama tersebut.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Rosan P. Roeslani menyebutkan, ketiga pakta kerja sama tersebut akan menjadi solusi bagi Indonesia untuk memacu pertumbuhan sektor industrinya.

Terlebih, menurutnya, Taiwan, Korsel dan beberapa negara anggota RCEP seperti Jepang, China, memiliki sektor industri yang maju di Asia.

“Konsep kerja sama yang tidak hanya terbatas pada perdagangan seperti halnya PTA atau FTA, akan membuat manfaat yang kita peroleh lebih besar. Apalagi di dalam sejumlah perjanjian di ketiga pakta kerja sama tersebut, memasukkan aspek transfer knowledge,” ujarnya.

Rosan menambahkan, khusus untuk kerja sama dengan Taiwan dan Korsel, dia meminta agar pemerintah memasukkan ketentuan penurunan hambatan nontarif di sektor makanan dan minuman (mamin).

Dia menilai, potensi ekspor RI terhadap produk mamin ke kedua negara tersebut cukup besar. Namun, selama ini ekspor produk itu, terkendala oleh tingginya hambatan nontarif seperti banyaknya syarat dan ketentuan yang diberikan terhadap produk mamin asal RI.

Terpisah, ekonom Universitas Indonesia Fitrha Faisal mengatakan, pakta kerja sama IK-CEPA akan memperkuat berkontribusi RI dalam rantai pasok terhadap tiga negara ekonomi utama Asia, yakni China, Korsel dan Jepang.

Di sisi lain, kedekatan Korsel dengan Indonesia dibandingkan dengan negara Asean lain, akan membuat manfaat yang diperoleh RI dari IK-CEPA akan menjadi lebih besar.

“Pakta Asean Plus Three selama ini tidak berjalan dengan baik. Untuk itu, kita perlu memainkan kerja sama bilateral. IK-CEPA akan memuluskan akses kita ke Korsel, setelah sebelumnya kita sudah punya IJEPA dengan Jepang. Sementara itu, dengan China kita bisa manfaatkan RCEP dan IT-CEPA dengan Taiwan sebagai hub ke China,” jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekspor, ekspor nonmigas, kerja sama perdagangan

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top