KABAR PASAR 22 AGUSTUS: Bunga BI Diprediksi Bertahan, Puluhan Multifinance Bermodal Cekak Terancam Sanksi

Berita mengenai prediksi Bank Indonesia menahan tingkat suku bunga acuan serta puluhan multifinance yang teancam sanksi menjadi sorotan edisi harian Bisnis Indonesia, Kamis (22/8/2019).
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 22 Agustus 2019  |  07:53 WIB
KABAR PASAR 22 AGUSTUS: Bunga BI Diprediksi Bertahan, Puluhan Multifinance Bermodal Cekak Terancam Sanksi
suku bunga

Bisnis.com, JAKARTA – Berita mengenai prediksi Bank Indonesia menahan tingkat suku bunga acuan serta puluhan multifinance yang teancam sanksi menjadi sorotan edisi harian Bisnis Indonesia, Kamis (22/8/2019).

Berikut beberapa perincian topik utamanya:

Bunga BI Diprediksi Bertahan. Sensitivitas nilai tukar rupiah yang masih tinggi dan ancaman capital outflow diprediksi menjadi alasan kuat bagi Bank Indonesia untuk menahan tingkat suku bunga acuan di level 5,75 persen.

Puluhan Multifinance Bermodal Cekak Terancam Sanksi. Otoritas Jasa Keuangan mencatatkan masih ada 35 perusahaan pembiayaan yang belum memenuhi ketentuan ekuitas senilai Rp100 miliar yang harus dipenuhi hingga akhir 2019.

Alokasi Anggaran BLU Dipangkas. Untuk pertama kalinya pemerintah memangkas penyertaan modal negara (PMN) kepada Badan Layanan Usaha (BLU) Pusat Investasi Pemerintah (PIP). Dalam RAPBN 2020, pemerintah hanya akan memberikan PMN kepada BLU PIP senilai Rp1 triliun. Padahal, nilai PMN setiap tahun selalu meningkat.

Perluasan Objek Pajak Dimatangkan. Perdebatan tentang perluasan objek pajak dalam revisi Undang-Undang No.36/2008 tentang Pajak Penghasilan (UU PPh) masih terus berlangsung. Hal ini diungkapkan Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Suahasil Nazara saat dikonfi rmasi soal perkembangan pembahasan revisi UU tersebut pekan lalu.

Listing Alibaba ‘Diadang’ Demonstran. Kericuhan politik yang terjadi di Hong Kong dalam beberapa pekan terakhir menghambat rencana bisnis Alibaba Group Holding Ltd. Perusahaan terbesar di China itu menunda rencana listing di bursa Hong Kong.

Pencemaran Air Hambat Pertumbuhan. Kualitas air yang buruk menyerap sepertiga dari potensi pertumbuhan ekonomi di kawasan yang paling tercemar. Dalam laporan berjudul “Water Unknown: The Invisible Water Crisis” yang dirilis Bank Dunia, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) turun 0,82 basis poin di wilayah hilir sungai yang sangat tercemar, dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan rata-rata 2,33 persen.

Malaysia Agresif Bangun Opini Dunia. Pada 26 Februari pagi, sejumlah eksekutif perusahaan konsultan komunikasi (public relation/PR) di Washington mempresentasikan makalah strategi kepada pejabat paling berpengaruh di industri minyak sawit Malaysia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kabar pasar

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top