Industri Kafe Diprediksi Serap 25% Kopi Produksi Domestik Tahun Ini

Kontribusi bisnis kedai kopi terhadap serapan dalam negeri diprediksi mencapai sekitar 25% pada 2019, lebih tinggi jika dibandingkan dengan realisasi 2018 yang hanya menyumbang 18%—20% dari serapan kopi dalam negeri. 
Dewi Aminatuz Zuhriyah
Dewi Aminatuz Zuhriyah - Bisnis.com 22 Agustus 2019  |  17:35 WIB
Industri Kafe Diprediksi Serap 25% Kopi Produksi Domestik Tahun Ini
Petani memanen kopi arabika di Desa Mekarmanik, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (20/6/2019). - ANTARA/Raisan Al Farisi

Bisnis.com, JAKARTA —  Kontribusi bisnis kedai kopi terhadap serapan dalam negeri diprediksi mencapai sekitar 25% pada 2019, lebih tinggi jika dibandingkan dengan realisasi 2018 yang hanya menyumbang 18%—20% dari serapan kopi dalam negeri. 

Moelyono Soesilo selaku Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia  (AEKI) mengatakan hingga akhir 2019 serapan kopi dalam negeri, baik kopi robusta maupun arabika, diperkirakan mencapai 360.000 hingga 380.000 ton dari total produksi yang diprediksi mencapai 700.000 ton. 

Dia mengatakan, dalam beberapa tahun ini serapan kopi dalam negeri memang meningkat cukup signifikan. Apalagi, dalam beberapa tahun terakhir ini bisnis kedai kopi pun terus tumbuh di Indonesia. 

Kendati bisnis kedai kopi terus tumbuh, dia meyakini kontribusi untuk serapan dalam negeri hanya bisa mencapai maksimal 40%.

“Ini kan untuk kedai kopi, yang digunakan kan itu kopi mutu premium dan orang gak mungkin minum kopi di kedai setiap hari. Makanya serapannya juga gak maksimal, mungkin perlahan bisa mencapai 30%—40% tapi tidak akan lebih dari itu. Karena orang akan realistis, satu gelas kopi hitam di kedai kopi itu kan 15.000-20.000, jadi kan gak mungkin kesana terus, lebih baik buat kopi di rumah,” katanya kepada Bisnis.com, Rabu (21/8/2019). 

General Manager ABCD School of Coffee Willyanto membenarkan bahwa setiap tahun bisnis kopi akan terus berkembang. Apalagi, para pelaku usaha kedai kopi ini juga mudah mendapatkan bahan baku mengingat Indonesia merupakan salah satu produsen kopi terbesar. 

“Dibandingkan dengan awal saya masuk [industri kopi], bisnis ini memang terus berkembang. Bisa dilihat dari jumlah murid disini [ABCD School of Coffee], 90% yang belajar di sini  tujuannya ingin jadi owner kedai kopi,” kata Willy. 

Untuk mengatasi persaingan antara kedai kopi, Willy mengatakan, perlu ada ciri khas dari kedai kopiyang ditonjolkan untuk menggaet pangsa pasarnya. 

“Sebetulnya banyaknya kedai kopi yang diuntungkan itu konsumen, mereka bisa tinggal milih. Nah tinggal bagaimana kedai kopi ini jago untuk melihat peluang, tren olahan kopi saat ini bagaimana, terus promosi di sosial media juga harus kuat.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kopi, kafe, harga kopi, kopi robusta, kopi arabica, kedai kopi

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top