Analis : BI Akan Tahan Suku Bunga, Tetapi Turunkan GWM

Analis memperkirakan Bank Indonesia akan menahan suku bunga dan menurunkan giro wajib minimum (GWM) pada rapat dewan gubernur yang berakhir pada Kamis (22/8/2019).
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 21 Agustus 2019  |  16:12 WIB
Analis : BI Akan Tahan Suku Bunga, Tetapi Turunkan GWM
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo meninggalkan ruangan usai memberikan keterangan kepada awak media di Jakarta, Kamis (18/7/2019). - Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, MANGUPURA — Analis memperkirakan Bank Indonesia akan menahan suku bunga dan menurunkan giro wajib minimum (GWM) pada rapat dewan gubernur yang berakhir pada Kamis (22/8/2019).

Sin Beng Ong, Executive Director JP Morgan Singapore, menjelaskan bahwa pemangkasan suku bunga akan lebih condong dilakukan pada September mengikuti langkah dari Bank Sentral AS (Federal Reserve).

“Menurut saya, mereka [BI] akan menahan suku bunga tetapi memangkas giro wajib minimum (GWM). Karena GWM bakal membantu likuiditas,” katanya.

Hal tersebut diungkapkannya dalam seminar internasional yang diselenggarakan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) bertajuk “Facing Softening Global Economy: The Need to Strengthen Bank Resolution Preparedness” di Mangupura, Bali, Rabu (21/9/2019).

Ong menilai, permasalahan utama yang dihadapi saat ini adalah mengetatnya likuiditas perbankan ketimbang suku bunga tinggi itu sendiri. Dengan demikian, langkah tersebut dinilai paling optimal untuk diambil BI dalam rangka menjaga stabilitas makroekonomi.

Head of Research RHB Sekuritas Henry Wibowo menyampaikan hal serupa mengenai langkah yang akan diambil BI dalam RDG pekan ini.

“Mungkin [pemangkasa] 25 bps itu di kuartal IV/2019. Mungkin akan ada penurunan sekali lagi di akhir tahun, bukan bulan ini,” katanya di sela-sela seminar yang sama.

Dirinya menjelaskan, BI masih akan menunggu dan mencermati langkah yang akan diambil The Fed. Namun, yang pasti tren suku bunga bakal terjadi dalam 1—2 tahun ke depan.

RHB Sekuritas memperkirakan suku bunga BI akan turun sebesar 50 bps pada tahun ini, dan 50—100 bps lagi pada tahun depan.

“Menurut kami, 2 tahun ke depan, ruang untuk pemangkasan suku bunga itu cukup besar, mungkin bisa balik lagi ke level smapai 4,0%,” imbuh Henry.

Adapun, pemangkasan suku bunga tersebut dinilainya bakal menjadi upaya mendorong pertumbuhan ekonomi. Dalam rapat Nota Keuangan pekan lalu, Presiden Joko Widodo menyampaikan bahwa pertumbuhan PDB ditargetkan sebesar 5,3% pada tahun depan atau lebih tinggi dibandingkan periode dua tahun terakhir.

Selanjutnya, opsi pemangkasan GWM yang dilakukan BI pada RDG bulan ini juga dinilai Henry dapat melonggarkan likuiditas perbankan yang saat ini diibaratkan sudah “lampu kuning”.

Kendati loan-to-deposit ratio (LDR) bank umum kelompok usaha (BUKU) IV saat ini masih terbilang aman di kisaran 92%—91%, LDR yang dimiliki BUKU III dan yang lebih kecil justru semakin ketat di atas 100%.

“Itu bisa dibilang lampu kuning karena biasanya LDR yang sehat adalah 90%,” jelas Henry, sambil menambahkan bahwa penurunan GWM akan baik untuk likuiditas karena likuiditas perbankan merupakan salah satu PR yang harus diselesaikan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank indonesia, Suku Bunga, gwm

Editor : Emanuel B. Caesario

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top