Perang Dagang, Indonesia Rawan Jadi Sasaran Trade Diversion Produk China

Meski riset Morgan Stanley menunjukkan bahwa Indonesia cenderung aman dari dampak perang dagang, Indonesia perlu mewaspadai trade diversion produk China.
Muhamad Wildan
Muhamad Wildan - Bisnis.com 13 Agustus 2019  |  00:35 WIB
Perang Dagang, Indonesia Rawan Jadi Sasaran Trade Diversion Produk China
Suasana di Pelabuhan Lianyungang, Provinsi Jiangsu, China, 8 September 2018. - REUTERS/Stringer

Bisnis.com, JAKARTA–Meski riset Morgan Stanley menunjukkan bahwa Indonesia cenderung aman dari dampak perang dagang, Indonesia perlu mewaspadai trade diversion produk China.

Direktur Eksekutif Core Mohammad Faisal mengatakan apabila bea masuk yang dikenakan atas produk China ke AS besar, maka China akan mencari negara dengan pasar yang hampir mendekati besarnya.

Faisal mengungkapkan bahwa India termasuk negara yang memiliki pasar yang besar, tapi hambatan tarif dan non-tarif di negara tersebut cukup tinggi.

Indonesia menurutnya memiliki hambatan tarif dan non-tarif yang tidak tinggi sehingga pasar Indonesia bisa menjadi sasaran produk China kedepannya.

"Jadi indonesia yang rentan trade diversion dari China, kalau di luar trade diversion itu memang dampak negatifnya kecil," ujar Faisal, Senin (12/9/2019).

Di lain pihak, peneliti Indef Bhima Yudhistira mengatakan dampak perang dagang terhadap Indonesia cukup kecil. Studi Indef mengungkapkan bahwa perang dagang antara AS dengan China hanya menyebabkan berkurangnya PDB Indonesia sebesar kurang dari 0,1%.

Hal ini disebabkan oleh kontribusi ekspor Indonesia terhadap PDB hanya sebesar 17,6% dan konsumsi rumah tangga menjadi kontributor terbesar dengan sumbangsih 57%.

Hal ini berbeda dengan Singapura dan Vietnam yang ekspornya berkontribusi sebesar 176,4% dan 95,4% dari PDB masing-masing negara.

KEBIJAKAN FISKAL

Untuk menangkal dampak dari perang dagang terhadap pertumbuhan ekonomi, kajian Morgan Stanley menyarankan agar pemerintah lebih memilih kebijakan fiskal ketimbang moneter sebagai penangkal.

Faisal mengatakan kebijakan fiskal yang dikeluarkan oleh Indonesia saat ini masih belum jelas sasarannya.

Oleh karena itu, insentif fiskal terutama untuk investasi harus diarahkan kepada investasi atas sektor-sektor unggulan Indonesia.

"Jadi yang paling unggul perlu diperbesar insentifnya, itu bertahap besarannya dari yang unggulan hingga yang paling tidak unggul," ujar Faisal.

Bhima juga memandang bahwa pemerintah perlu memberikan insentif khusus untuk relokasi industri khususnya pada sektor tekstil, elektronik, alas kaki, dan barang dari kulit.

"Paket tax holiday perlu ditujukan ke perusahaan yang mau memindahkan basis produksi dari China atau AS ke Indonesia. Pemerintah juga harus jemput bola, jangan pasif," kata Bhima.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perang dagang AS vs China

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top