Noken Papua, Sang Pemersatu dan Simbol Identitas Diri

Baik anak kecil hingga orang dewasa menggunakan noken dalam kehidupan sehari-hari untuk beraktivitas. Noken ibarat identitas diri orang Papua yang menyatukan berbagai suku di sana. Kehadiran noken bermakna filosofis dinilai sebagai simbol kekeluargaan dan kehidupan bagi masyarakat Papua.
Tika Anggreni Purba
Tika Anggreni Purba - Bisnis.com 12 Agustus 2019  |  17:16 WIB
Noken Papua, Sang Pemersatu dan Simbol Identitas Diri
Noken dari Papua dikemas secara unik menjadi pernik fashion oleh Yurita Puji. File foto 16 September 2018 dari Instagram yurita puji.official

Bisnis.com, JAKARTA — Kekayaan alam di hutan Papua memberikan manfaat besar bagi masyarakat Papua. Salah satunya adalah pemanfaatan sumber daya alam yakni serat kayu sebagai bahan dasar pembuatan noken atau tas serbaguna khas Papua. Noken telah melekat dalam budaya orang Papua sejak zaman dahulu kala.

Baik anak kecil hingga orang dewasa menggunakan noken dalam kehidupan sehari-hari untuk beraktivitas. Noken ibarat identitas diri orang Papua yang menyatukan berbagai suku di sana. Kehadiran noken bermakna filosofis dinilai sebagai simbol kekeluargaan dan kehidupan bagi masyarakat Papua.

Pemanfaatan noken juga kian berkembang tidak hanya untuk menyimpan barang-barang seperti tas biasa, tetapi juga untuk fesyen. Perajin noken asli Papua Merry Dogopia menuturkan bahkan kini hasil kerajinan serat kulit kayu tidak hanya dimanfaatkan untuk membuat Noken, tetapi juga dibuat untuk anting-anting, gantungan kunci, gelang, kalung, dan pakaian.

Merry berharap bahwa kehadiran noken Papua tidak hanya menyatu dalam kehidupan masyarakat Papua saja, tetapi juga masyarakat Indonesia secara umum. “Noken juga sudah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia, harapannya makin populer juga di luar masyarakat Papua di Indonesia,” ujar Merry.

Sebagai perajin noken, Merry menceritakan kisah pembuatan noken yang masih dibuat secara manual. Noken dibuat dari serat kulit kayu asli yang diambil di hutan.

Pertama, kulit kayu asli dikupas dan dipisahkan dengan batang. Dari kulit kayu itu kemudian serat-serat kayu diambil. Kedua, serat kayu yang sudah dipisahkan itu kemudian dipipihkan dan diremas agar airnya keluar. Serat kayu yang setengah kering itu kemudian dijemur hingga kering betul untuk dipintal menjadi noken.

“Untuk pembuatan noken kecil dari serat kulit kayu membutuhkan waktu 1-2 hari,” ujar Merry.

Selain dari kulit kayu, ada juga noken dibuat dengan bahan kulit anggrek. Noken dengan bahan ini biasanya memiliki warna asli tanpa diberikan pewarna. Karena kulit anggrek sulit untuk ditemukan, noken dari kulit anggrek biasanya dijual cukup mahal.

“Noken dari kulit anggrek pada awalnya hanya dipakai oleh orang-orang tertentu seperti penguasa, orang berada, atau orang penting di Papua, namun seiring perubahan zaman kini sudah banyak yang mengenakan noken jenis ini,” ujarnya.

Sebagai ketua Noken Ania yang merupakan komunitas para perajin noken di Papua, Merry menilai bahwa saat ini penjualan noken terbanyak masih di Papua. Padahal, noken memiliki potensi besar untuk dipasarkan di luar Papua, bahkan di luar Indonesia.

Muhammad Farid, program director Econusa Foundation mengatakan bahwa penggunaan noken juga dapat dimanfaatkan sebagai pengganti kantong plastik. Pengurangan penggunaan kantong plastik dan diganti dengan noken dinilai dapat menjadi solusi untuk menjaga alam dari polusi plastik.

Dia sendiri mengaku menggunakan noken dalam kehidupan sehari-hari dengan alasan kepraktisan. “Saya pikir untuk menjaga budaya noken, kita harus mulai untuk menggunakannya. Noken saja sudah jadi warisan dunia, masa kita orang Indonesia tidak menggunakannya?” kata Farid.

Mengingat noken adalah tas yang dibuat dari bahan alami yang umumnya berasal dari hutan, kelestarian hutan perlu dijaga demi kelestarian budaya noken juga. “Jadi ketika kita menggunaan noken, kita akan diingatkan untuk menjaga hutan juga,” ujarnya lagi.

Kalau hutan tidak terjaga, maka budaya noken juga bisa hilang karena kehilangan bahan.

Saat ini Econusa secara aktif bekerja sama dengan masyarakat adat dan komunitas untuk mempromosikan karya kerajinan dan budaya mereka, termasuk juga mempromosikan penggunaan noken. 

“Kesempatan untuk dipromosikan lebih luas ada, harapannya juga akan ada investor yang mau untuk mengembangkan itu,” ujar Farid.

PROMOSI LUAR NEGERI

Perancang busana Indonesia Yurita Puji merupakan salah satu dari sekian banyak desainer yang berkosentrasi dan berkontribusi untuk melestarikan produk-produk warisan budaya Indonesia, termasuk noken. Baru-baru ini Yurita merancang busana dengan padu padan noken Papua dan ditampilkan dalam ajang London Fashion Week.

“Untuk fashion show internasional kita tidak cukup bisa mendesain saja, tetapi kita juga harus bisa membuat tulisan mengenai konsep desain yang akan ditampilkan,” kata Yurita.

Pada pegelaran London Fashion Week itu, Yurita memilih untuk menulis mengenai noken dan bagaimana noken menjadi simbol pemberdayaan perempuan. Dia menggambarkan produktivitas perempuan Papua dalam memproduksi noken.

“Saat itu saya menggunakan noken sebagai aksesoris, dan beberapa noken besar saya modifikasi menjadi produk pakaian,” katanya.

Menurutnya sambutan pencinta fesyen internasional terhadap noken cukup baik, terlihat juga dari para model luar negeri yang sangat antusias bahkan berebut untuk menggunakan busana nuansa Papua yang dirancang oleh Yurita.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
budaya, papua

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top