Rusia Perketan Masuknya CPO, Ini Jawaban GIMNI

Pemerintah Rusia berencana memperketat masuknya minyak nabati yang berasal dari kelapa sawit  dengan memberlakukan pelarangan kontaminasi glycerin ester.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 08 Agustus 2019  |  00:55 WIB

Bisnis.com, MOSKOW –Pemerintah Rusia berencana memperketat masuknya minyak nabati yang berasal dari kelapa sawit  dengan memberlakukan pelarangan kontaminasi glycerin ester.

Glycerin ester atau asam lemak gliserin yang dimaksud adalah senyawa kimia yang merupakan komponen berbagai macam lemak yang terdapat pada minyak sawit. Senyawa ini juga bisa ditemukan dalam lemak hewani dan biasa dipakai untuk bahan kosmetik.

Direktur Executive Oil dan Fat Consumers and Producer Asociation Ekatarina Nesterova menyebutkan bahwa Rusia akan segera memperketat masuknya minyak sawit ke negara tira besi tersebut. Menurutnya kebijakan itu akan terbit dalam waktu dekat sehingga produsen minyak sawit asal Indonesia diminta untuk bersiap.

“Untuk saat ini minyak sawit Indonesia memang masih sesuai dengan aturan pemerintah [tapi mungkin nanti tidak lagi] akan ada permintaan tambahan dari kami tentang produk tanpa glisterin ester. Kami memang butuh dengan minyak sawit tapi apakah kalian bisa memasok bahan baku tanpa itu?” katanya di Moskow baru-baru ini.

Menghadapi realitas tersebut, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Sahad Sinaga mengatakan produsen minyak nabati sawit perlu waktu untuk mengikuti aturan baru yang ada. Minimal enam bulan sebelum beleid anyar baru berlaku.

“Minyak sawit itu yang mereka perkirakan berbahaya adalah glycerin ester. Mereka mau menerapkan itu karena Indonesia kok belum berbuat. Pertanyaannya bagaimana jika tiba-tiba Russia mendadak memberlakukan hal tersebut,” katanya. Dia meminta waktu enam bulan sebab produsen perlu berinvestasi pada pemeliharaan alat produksi berupa pemberishan tangki minyak dan penggantian pipa supaya produk tidak terkontaminasi oleh glycerin ester.

Sahad mengakui selama ini senyawa tersebut terkandung dalam minyak sawit. Dimana senyawa tersebut dianggap sebagai racun oleh Russia. Kendati demikian dia menilai beleid yang tengah diramu itu sejatinya adalah hambatan dagang supaya konsumsi minyak sawit tidak terus meningkat. Sebab dari kacamatanya lebih dari seratus tahun masyarakat Indonesia mengkonsumsi belum terjadi kasus yang berbahaya.

“Mereka bisa berlakukan itu tapi jangan lupa harga akan naik karena itu butuh investasi.  Tapi dengan begitu harga akan menyamai minyak  nabati yang lain juga. Itu cara supaya minya kita bisa setara harganya dengan minyak nabati mereka,” katanya. Menurutnya harga minyak sawit yang lebih rendah di kisaran US$500 per ton dibandingkan dengan minyak nabati lain di kisaran US$800 menjadi ancaman dagang. Oleh sebab itu diupayakan agar dapat setara dengan minyak nabati lainnya.

Selain itu, menurutnya Russia masih terbelenggu kampanye negatif bahwa minyak nabati asal Indonesia itu dicampur dengan air selokan. Hal tersebut, tegas Sahad, tidak masuk akal karena kita adalah  konsumen terbesar dimana penggunaanya itu 10 juta ton di Indonesia. Menurutnya tidak mungkin produsen meracuni sesama bangsa.

Hal itu pun diamini oleh Director Executive Non-Commercial Organization Research Center Healthy Nutrition Zinaida Medvedeva. Menurutnya 60% informasi yang bereda di Russia tentang minyak sawit cenderung negatif.

“Konsumen kami banyak yang tidak ingin membeli produk dengan minyak sawit karena informasi yang beredar selalu negative. Inilah realitanya dan kalian harus dapat membuktikan itu salah dengan riset,” ungkapnya.

Mengetahui hal tersebut, Sahad menyebut Indonesia dan Russia akan segera mengadakan riset bersama untuk menangkis kampanye negative yang kerap berhembus. Pasalnya dia menilai Russia adalah negara yang potensial untuk menyerap minyak sawit nasional.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
cpo

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top