Ini Dia 6 Inovasi Terbaik Balai Litbang Kemenperin

Pelayanan teknis oleh balai litbang dapat menjawab tantangan terkait peningkatan nilai tambah produk ekspor dan substitusi impor.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 07 Agustus 2019  |  20:05 WIB
Ini Dia 6 Inovasi Terbaik Balai Litbang Kemenperin
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin, Ngakan Timur Antara. - KEMENPERIN

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Perindustrian mengumumkan enam balai penelitian dan pengembangan (litbang) perindustrian dengan inovasi terbaik pada tahun ini.

Kemenperin menyatakan pelayanan teknis oleh balai litbang dapat menjawab tantangan terkait peningkatan nilai tambah produk ekspor dan substitusi impor.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin Ngakan Timur Antara dalam keterangan resmi mengatakan kegiatan litbang dapat menghasilkan produk yang kreatif, inovatif, dan kompetitif melalui penggunaan teknologi. Alhasil, industri lokal dapat mengolah bahan baku dengan nilai tambah.

“Sekarang BPPI Kemenperin didukung sebanyak 24 unit penyedia layanan jasa teknis di berbagai daerah, yang terdiri dari 11 unit Balai Besar, 11 unit Balai Riset dan Standardisasi Industri [Baristand Industri], Balai Sertifikasi Industri, serta Balai Pengembangan Produk dan Standardisasi Industri,” ujarnya, Rabu (7/8/2019).

Pada tahun ini, telah terpilih enam hasil inovasi terbaik dari unit litbang di bawah BPPI. Pertama, Baristand Industri Medan yang menghasilkan Rekayasa dan Rancang Bangun Heavy Duty Coupling Produk Industri Kecil Menengah untuk Pabrik Kelapa Sawit. “Inovasi ini untuk meningkatkan efisiensi produksi dan menekan nilai impor pada komponen mesin yang digunakan oleh pabrik kelapa sawit,” kata Ngakan.

Kedua, Balai Besar Kerajinan dan Batik dengan menciptakan dua hasil litbang terbaik, yaitu Perancangan Aplikasi Pembeda Produk Batik dan Tiruan Batik menggunakan Tensor Flow, Batik Analyzer. Hasil penelitian ini merupakan sebuah aplikasi yang mengadopsi teknologi artificial intelligence (AI), berupa machine learning yang sistemnya dapat dilatih untuk membedakan produk batik dan produk tiruan batik.

Inovasi yang ketiga adalah Limbah Kulit Buah Kakao Untuk Pewarna Batik. “Limbah kulit buah kakao yang selama ini belum banyak dimanfaatkan dapat menjadi produk yang lebih bernilai untuk keperluan bahan pewarna alami batik,” ujar Ngakan.

Berikutnya, inovasi dari Balai Besar Kimia Kemasan dengan judul Antioksidan dan Wound Healing dari Ekstraksi Spirulina Sp sebagai Bahan Sediaan Kosmetik. Berdasarkan analisis dari percobaan ekstraksi yang telah dilakukan, antioksidan tersebut berpotensi digunakan sebagai bahan untuk mempercepat penyembuhan luka.

Inovasi kelima dari Balai Besar Pulp dan Kertas yang menghasilkan riset dengan judul Furfural dari Proses Pembuatan Pulp. Penelitian ini memanfaatkan cairan prehydrolized liquor (PHL) untuk mendapatkan furfural atau salah satu senyawa kimia yang merupakan salah satu bahan baku industri farmasi. Selama ini, furfural hanya didapatkan melalui impor.

Sementara itu, Balai Besar Tekstil dengan judul risetnya Xanthan Gum dari Xanthomonas campestris Sebagai Pengental untuk Aplikasi Proses Pencapan Tekstil berada di peringkat enam. Bahan tersebut digantikan dengan Xanthan Gum dengan media ampas tahu yang memiliki hasil kualitas printing warna yang lebih baik.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
litbang

Editor : Galih Kurniawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top