Kejar Pertumbuhan 20%, Ini Strategi Pengelola Pusat Belanja di Indonesia

Jumlah pengunjung pusat perbelanjaan pada tahun ini ditargetkan meningkat sekitar 20% dibandingkan dengan tahun lalu.
Dewi Aminatuz Zuhriyah
Dewi Aminatuz Zuhriyah - Bisnis.com 07 Agustus 2019  |  17:47 WIB
Kejar Pertumbuhan 20%, Ini Strategi Pengelola Pusat Belanja di Indonesia
Suasana di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta, Selasa (8/1/2019). - Bisnis/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Jumlah pengunjung pusat perbelanjaan pada tahun ini ditargetkan meningkat sekitar 20% dibandingkan dengan tahun lalu.

Salah satu upayanya dengan menggelar pesta diskon yaitu Indonesia Great Sale (IGS) 2019 yang akan digelar pada pekan depan. Program ini diikuti oleh seluruh pusat perbelanjaan di 24 provinsi.

Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Stefanus Ridwan mengatakan bahwa IGS 2019 bisa menarik masyarakat untuk datang ke pusat perbelanjaan dan meningkatkan nilai transaksi penjualan.

“Rencana Indonesia Great Sale 2019 ini sebetulnya dari tahun lalu, cuma karena waktunya mepet akhirnya masing-masing DPD APPBI bikin great sale sendiri seperti Palembang Great Sale, Jakarta Great Sale dan lainnya. Nah dari situ kita lihat bahwa kalau hanya di daerah gaungnya ke luar negeri gak ada, jadi sayang kan. Sementara negara tetangga seperti Singapura dan Thailand sudah menggelar event seperti itu,” katanya, Selasa (6/8/2019).

Meskipun baru pertama kali, sebutnya, program ini diharapkan bisa diselenggarakan setiap tahun.

“Tahun pertama ini kami gak berharap banyak orang luar negeri datang, tapi di tahun kedua ketiga nanti kita maunya ada peningkatan, sehingga IGS ini bisa berjalan dengan baik,” imbuhnya.

Dalam hal ini, dia mengatakan penyelenggaraan IGS 2019 mendapat antusasi yang cukup besar dari sejumlah pusat perbelanjaan di daerah.

Sebagai contoh, untuk menyambut IGS 2019 pusat perbelajaan yang ada di Palembang, Kalimantan dan Banten justru lebih dulu persiapannya dibandingkan dengan Jakarta.

“Banten juga serius banget, apalagi pembukaannya kan di Tancity Mall, mereka serius sekali.”

Dia menjelaskan pembukaan event ini memang sengaja tidak dilakukan di Jakarta lantaran sebelumnya Jakarta sudah menggelar Jakarta Great Sale.

“Selain itu, sebetulnya kan anggota APPBI 90% ini kan kelas menengah bukannya untuk kelas atas. Kelas atas itu hanya lebih dari 8% jadi kami harapkan imbas event ini lebih banyak ke mal-mal yang 90% itu. Belum lagi banyak juga UMKM di mal-mal tersebut.  Di daerah mall-nya juga bagus.”

Adapun, dari 24 provinsi yang mengikuti event tersebut, Stefanus mengatakan Jakarta merupakan peserta IGS 2019 yang paling besar dimana terdapat 83 pusat perbelanjaan. Adapun, posisi kedua  adalah Provinsi Jawa Barat yang memiliki kurang lebih 60-an mal.

Selain menggelar pesta diskon, Stefanus mengatakan untuk menarik pengunjung pengelola pusat perbelanjaan juga harus kreatif dalam mengikuti perkembangan jaman.

Menurutnya, berkaca pada kondisi saat ini, mal bukan lagi menjadi tempat belanja melainkan juga menjadi tempat leasure.

“Jadi sekarang ini pengunjung berusaha untuk cari tempat yang instagramable. Jadi begitu diunggah di media sosial itu juga mengundang orang lain untuk datang, jadi mal yang bisa menyajikan pengalaman yang unik, kafe unik, hingga restoran unik. Kalau mal yang hanya biasa-biasa aja justru ditinggalkan.”

Dia mencontohkan seperti halnya Blok M Plaza yang sempat mengalami penurunan jumlah pengunjung secara drastic. Menurutnya, saat ini peningkatan jumlah pengunjung Blok M Plaza bukan karena terhubung dengan MRT melainkan juga adanya perubahan dari pengelola mal.

“Sekarang kalau kita masuk kesana sudah beda banget. Restorannya juga sudah bagus banget menarik dan orang gak gengsi ya makan disitu. Saya kira itu yang penting. Belum lagi kemarin sempat viral yang Blok M plaza nyambung MRT, jadi balik lagi seperti jaman dulu saat dia dibangun. Sekarang pengunjungnya bisa naik 5 kali lipat. Saya kira mal lain juga harus berani untuk berubah.”

Sementara itu, terkait dengan digelarnya Indonesia Great Sale 2019, APRINDO menargetkan nilai transaksi penjualan dalam event yang digelar pada 14 sampai 25 Agustus 2019 ini bisa mencapai lebih dari Rp35 triliun.

Ketua APRINDO, Roy Mande mengatakan bahwa nilai tersebut merupakan perhitungan dari jumlah minimal pengeluaran per orang pengunjung mal yakni senilai Rp200.000 dikalikan dengan rata-rata jumlah pengunjung mal per hari dan keseluruhan jumlah pusat perbelanjaan di Indonesia.

“Jumlah pengunjung mal rata-rata di Indonesia itu sekitar 30.000 sampai 50.000 orang/hari. Kalau mal besar bisa 60.000 bahkan 100.000 saat weekend. Hitunglah rata-rata 30.000 pengunjung/hari dikalikan Rp200.000 kemudian dikalikan 321 jumlah mal di Indonesia.  Ditambah adanya program-program promosi, kami targetkan sekitar Rp35 triliun lebih selama Indonesia Great Sale berlangsung,” kata Roy Mande.

Vita Datau selaku Ketua Tim Percepatan Pengembangan Wisata Belanja dan Kuliner Kemenpar menuturkan, dengan adanya kerjasama antara APPBI dan APRINDO dalam Indonesia Great Sale akan mampu menjadi daya tarik wisata belanja tahunan yang menarik warga lokal maupun wisatawan asing.

Hal ini juga menjadi kesempatan Indonesia untuk menunjukkan potensinya sebagai destinasi belanja.

Vita mengatakan ada tiga alasan mengapa harus menggelar Indonesia Great Sale 2019. Pertama, data global shopping index dari 2015-2017 menunjukkan bahwa penduduk Indonesia masuk dalam top 5 sebagai shopaholic.

Kedua, Jakarta menjadi salah kota di Indonesia yang masuk dalam list sebagai kota belanja dengan alasan harga yang bisa dijangkau.

Ketiga, Indonesia memiliki produk unggulan yang sudah masuk dalam daftar UNESCO yaitu kriya, furniture dan batik dalam hal ini juga termasuk tenun.

“Jadi tiga alasan itu yang membuat Indonesia Great Sale harus diadakan,” kata Vita.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pusat belanja

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top