Proyek Energi Tertunda, Vietnam Dibayangi Defisit Listrik

Vietnam diperkirakan mengalami defisit listrik yang parah mulai 2021 akibat terus meningkatnya konsumsi yang belum bisa diiimbangi pasokan dari pembangkit listrik.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 01 Agustus 2019  |  15:33 WIB
Proyek Energi Tertunda, Vietnam Dibayangi Defisit Listrik
Ilustrasi - Antara

Bisnis.com, HANOI Vietnam diperkirakan mengalami defisit listrik yang parah mulai 2021 akibat terus meningkatnya konsumsi yang belum bisa diiimbangi pasokan dari pembangkit listrik.

Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran investasi yang akan masuk ke Vietnam bisa terhambat, padahal negara tersebut menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di Asia Tenggara. Selain itu, Vietnam juga akan sulit memanfaatkan momentum perang dagang antara Amerika Serikat dan China.

Kementerian Industri dan Perdagangan Vietnam menyatakan permintaan listrik Vietnam akan melebihi pasokan sebesar 6,6 miliar kilowatt hour (kWh) pada 2021 dan meningkat jadi 15 kWh pada 2023 atau setara dengan 5 persen permintaan listrik pada saat itu.

Selain itu, banyak proyek-proyek energi yang mengalami penundaan. "Pengembang kesulitan mendapatkan dana yang cukup dari sumber lokal dan pemerintah telah membatasi jaminan untuk pinjaman luar negeri," tutur kementerian dalam pernyataannya kepada Reuters, Rabu (31/7/2019).

Adapun Vietnam membutuhkan investasi rata-rata US$6,7 miliar per tahun untuk meningkatkan kapasitas pembangkit listrik tahunan sebesar 10 persen sepanjang periode 2016-2030.

"Ini adalah tantangan besar, mengingat harga listrik saat ini di Vietnam hampir tidak cukup bagi pengembang untuk mendapatkan keuntungan," kata pernyataan itu.

Pada bulan lalu, media pemerintah menyatakan 47 dari 62 proyek pembangkit listrik Vietnam dengan kapasitas 200 megawatt (MW) atau lebih mengalami penundaan dengan jangka waktu sedikitnya dua tahun.

Menurut data pemerintah, dengan populasi 96 juta jiwa dan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) tahunan sekitar 7 persen yang didukung investasi asing dan ekspor, kapasitas pembangkit listrik di Vietnam perlu meningkat dari sekitar 48.600 MW pada saat ini menjadi 60.000 MW pada 2020 dan 129.500 MW pada 2030.

Daine Loh, analis energi di Fitch Solutions, mengatakan potensi kekurangan daya akan menimbulkan beberapa risiko bagi sektor manufaktur Vietnam. Namun, dia menilai defisit tersebut tidak akan berdampak terlalu para pada investasi asing yang masuk.

Menurutnya, risiko utama investasi Vietnam berasal dari faktor politik.

"Kami percaya Vietnam akan memiliki kapasitas untuk mengatasi kekurangan listrik mereka dengan meningkatkan impor listrik selama beberapa tahun mendatang yang sebagian besar akan datang dari Laos dan China," katanya.

Dia mengungkapkan Vietnam sudah memiliki beberapa infrastruktur untuk membeli listrik hingga 1 gigawatt (GW) per tahun dari negara tetangga.

Pada tahun lalu, World Bank menyatakan Vietnam perlu berinvestasi hingga US$150 miliar pada 2030. Nilai tersebut hampir dua kali lipat dari yang diinvestasi Vietnam untuk sektor kelistrikannya sejak 2010 senilai US$80 miliar.

Vietnam pun semakin bergantung pada batu bara yang saat ini memiliki porsi 38,1 persen dalam bauran energi negara tersebut. Vietnam harus menggunakan 720 juta ton batu bara domestik, selain 680 juta ton batu bara yang diimpor, untuk bahan bakar pembangkitnya selama periode 2016-2030.

Vietnam juga harus mengimpor gas alam cair (LNG) untuk pembangkit listriknya.

Pemerintah menyatakan defisit listrik akan mulai menipis pada 2025 setelah beberapa pembangkit listrik tenaga gas beroperasi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pembangkit listrik, pltu

Sumber : Reuters

Editor : Lucky Leonard

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top