Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Industri Petrokimia Kebanjiran Investasi, 3 Proyek Raksasa Ditunggu-Tunggu

Pemerintah menunggu tindak lanjut negoisasi PT Pertamina (persero) dengan China Petroleum Corporation (CPC), Taiwan terkait pengembangan komplek petrokimia terpadu di Balongan, Jawa Barat.
Anggara Pernando
Anggara Pernando - Bisnis.com 31 Juli 2019  |  19:47 WIB
Pekerja beraktivitas di proyek pembangunan pabrik Polyethylene (PE) baru berkapasitas 400.000 ton per tahun di kompleks petrokimia terpadu PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP), Cilegon, Banten, Selasa, (18/6/2019). - Bisnis/Triawanda Tirta Aditya
Pekerja beraktivitas di proyek pembangunan pabrik Polyethylene (PE) baru berkapasitas 400.000 ton per tahun di kompleks petrokimia terpadu PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP), Cilegon, Banten, Selasa, (18/6/2019). - Bisnis/Triawanda Tirta Aditya
 
Bisnis.com, JAKARTA  - Pemerintah menunggu tindak lanjut negoisasi PT Pertamina (persero) dengan China Petroleum Corporation (CPC) Taiwan terkait pengembangan komplek petrokimia terpadu di Balongan, Jawa Barat.

"Tadi di bahas mengenai rencana kerja sama dan lokasinya. Ini masih menunggu pembicaraan business to business antara pertamina dan CPC," kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Rabu (31/7/2019).

Menurut Airlangga, dengan terealisasinya investasi dari CPC maka Indonesia akan membangun tiga proyek raksasa sektor petrokimia sekaligus. 

Proyek ini meliputi pabrik petrokimia yang dibangun oleh Lotte Chemical dengan investasi sekitar US$4 miliar, ekspansi yang dilakukan oleh PT Chandra Asri Tbk senilai US$4 miliar-US$4,5 miliar serta investasi dari CPC senilai US$8 miliar.

"Setelah tiga pabrik ini bisa beroperasi maka pertumbuhan industri terhadap produk [dengan bahan baku dari turunan] petrokimia ini akan [tumbuh lebih] baik," katanya.

Airlangga menyebutkan saat ini Industri indonesia menyerap produk petrokimia dan turunnnya sebanyak 5 juta ton per tahun. Jumlah ini akan terus tumbuh hingga 2025 mendatang. 

Dengan tingginya kebutuhan bahan baku ini maka beroperasinya sejumlah pabrik petrokimia skala raksasa di tanah air tidak akan saling mematikan secara bisnis.

"Sekarang kebutuhan kita 5 juta ton. Produksi [saat ini] baru 1 juta ton lebih. Jadi [untuk memenuhi bahan baku nasional] kita impor. Dengan itu [hadirnya pabrik petrokimia dalam jumlah besar] kebutuhan nasional bisa terpenuhi. Selain itu pabrik juga beroperasi bertahap. Mereka baru selesai 2023-2025," katanya. 


Dalam kesempatan terpisah, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitanmenyampaikan bahwa akibat impor petrokimia yang tinggi, defisit transaksi berjalan, sulit ditekan. Akibatnya negatif bagi perekonomian.

"Ya, kita jangan lagi impor-impor petrokimia lah, sekarang kan ini masih banyak sekali impor, ke depan jangan lagi. Harus ada pengembangan industri di dalam negerinya," katanya. 

Luhut meminta pembangunan industri peterokimia segera dituntaskan, karena menjadi dasar penting agar proses hilirisasi bisa berjalan dengan baik.

Jika tak ada pengembangan petrokimia, maka akan semakin memperburuk kondisi perekonomian. 
 
Kata dia, keberadaan industri petrokimia di sekitar kilang penting untuk menekan impor. "Jangan mundur lagi, karena saya sudah tiga tahun dorong petrokimia, tidak jalan-jalan," tegas Luhut, belum lama ini.

Di Indonesia, industri petrokimia belum mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri. Akibatnya, banyak bahan baku yang diimpor dari luar dan menekan neraca transaksi berjalan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

petrokimia
Editor : Sutarno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top