Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Produksi Gula : Kebun Tebu Mas Pasang Target Konservatif

PT Kebun Tebu Mas (KTM) yang beroperasi di Ngimbang, Lamongan, Jawa Timur, memperkirakan produksi gula tahun ini tak akan jauh berbeda dibanding 2018 lalu yang mencapai 84.000 ton.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 25 Juli 2019  |  12:39 WIB
Kebun tebu. - Ilustrasi
Kebun tebu. - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA--PT Kebun Tebu Mas (KTM) yang beroperasi di Ngimbang, Lamongan, Jawa Timur, memperkirakan produksi gula tahun ini tak akan jauh berbeda dibanding 2018 lalu yang mencapai 84.000 ton.

Perwakilan KTM Adi Prasongko kala ditemui di Jakarta pada Rabu (24/7/2019) mengemukakan perusahaan belum bisa memasang target pertumbuhan yang signifikan mengingat tebu yang dikelola oleh pabrik berasal dari kebun rakyat. Guna mendorong produksi, Adi menyatakan perusahaan terus memfasilitasi proses penanaman lewat pemberian bantuan bibit dan pupuk bagi petani.

"Kalau dari segi produktivitas rata-rata 7 ton per hektare [ha] karena di lahan kering. Untuk produksi gula tahun ini targetnya sekitar angka tahun lalu. Kami belum bisa memberikan rencana pasti karena kebunnya milik rakyat," kata Adi. 

Kendati demikian, ia menargetkan rendemen gula bisa naik di atas 8,5 persen. Tahun lalu, pabrik KTM tercatat telah mampu mencapai rendemen tertinggi 8,21 persen dan produktivitas lahan sekitar 5,6 ton-6 ton per ha.

Pabrik gula milik KTM sendiri memperoleh pasokan tebu dari lahan milik petani rakyat dengan luas sekitar 15.000 ha yang berada di enam kabupaten, yaitu Lamongan, Gresik, Tuban, Bojonegoro, Jombang, dan Mojokerto. Perusahaan juga memiliki aset lahan seluas 43 ha untuk keperluan riset serta lahan kerja sama dengan Perhutani seluas 1.009 ha.

Adapun untuk kapasitas maksimal pabrik pengolahan yang mencapai 12.000 ton cane per day (TC), Adi menjelaskan KTM baru memasang kapasitas sebesar 7.000 TCD atau sekitar 58 persen dari kapasitas optimal. Hal ini lantaran pasokan tebu dari petani mitra yang belum bisa memenuhi kebutuhan.

"Kami pakai 7.000 TCD. Jika kami terapkan maksimal, pasokan tebunya tidak cukup," tuturnya.

Adapun KTM menerapkan konsep kemitraan menggunakan sistem pembelian tebu secara putus (SPT) dengan dasar perhitungan kualitas tebu atau rendemen yang dihitung dengan teknologi. Adi memaparkan perusahaan memasang harga pembelian tebu sebesar Rp54.700 kuintal tebu. Harga tersebut bakal meningkat seiring nilai rendemen.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

gula tebu
Editor : Lucky Leonard
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top