Industri Jamu Perlu Varian Tanaman Obat Baru

Industri obat tradisional atau jamu membutuhkan inovasi produk baru demi mengatrol kinerja tahun ini.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 23 Juli 2019  |  22:17 WIB
Industri Jamu Perlu Varian Tanaman Obat Baru
Jamu-ilustrasi - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Industri obat tradisional atau jamu membutuhkan inovasi produk baru demi mengatrol kinerja tahun ini.

Gabungan Pengusaha Jamu (GP Jamu) menyatakan penambahan varian tanaman obat baru dapat menjadi pemicu akselerasi pertumbuhan industri jamu. Adapun industri jamu hanya akan memproduksi tanaman obat yang telah dipublikasikan maupun dipromosikan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Ketua Umum GP Jamu Dwi Ranny Pertiwi mengatakan pihaknya telah meminta PT Dexa Medika untuk meneliti tanaman obat baru untuk dapat diproduksi di dalam negeri. Namun menurutnya, penelitian oleh BPOM akan lebih meyakinkan masyarakat dan meningkatkan permintaan terhadap produk tanaman obat tersebut.

“Makanya saya mohon ke BPOM dan Kemenkes [Kementerian Kesehatan] tolong bantu promosi tanaman apa yang bisa diproduksi,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (23/7/2019).

Pihaknya telah mendapat izin untuk membuat produk bagi 15 penyakit baru pada tahun ini. Namun, adanya varian tanaman obat baru yang dapat dijadikan bahan baku bakal memperluas jenis jamu untuk berbagai penyakit.

Ranny berharap penelitian maupun promosi penggunaan tanaman obat baru juga datang dari perguruan tinggi. Namun, dia berharap penelitian mengenai tanaman obat untuk pengobatan penyakit baru dibarengi dengan rekomendasi dari BPOM agar penelitian tersebut tidak sia-sia.

“Misal bunga tapak dara dijadikan penelitian, tetapi tidak bisa dipakai. Jadinya masuk ke negative list BPOM. Jadi, jangan meneliti barang yang tidak bisa kami [industri] pakai. Kan biaya penelitian mahal,” katanya.

Pada semester I/2019, Ranny menyampaikan tekanan pada tahun lalu masih berlanjut pada tahun ini. Walau demikian, produksi masih tumbuh sekitar 5% secara tahunan.

Ranny mengatakan daya beli masyarakat dirasakan belum kembali menguat, sehingga pelaku usaha memilih untuk memaksimalkan penjualan produk yang sudah ada. Melemahnya daya beli konsumen industri jamu dan obat tradisional dalam negeri disebabkan oleh kenaikan harga produk pada tahun lalu. Menurutnya, pendapatan konsumer memang naik pada tahun ini, tetapi harga produk juga naik.

Dwi menyatakan optimis lapangan usaha industri jamu dan obat tradisional pada semester II/2019 akan lebih baik. Pasalnya asosiasi telah meminta BPOM dan Kementerian Kesehatan untuk membantu meningkatkan pamor jamu dan obat tradisional.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bpom, industri jamu

Editor : Galih Kurniawan
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top