Atasi Defisit Transaksi Berjalan, Reformasi Struktural Harus Dipercepat

Pemerintah disarankan untuk mempercepat upaya reformasi struktural dalam rangka memperbaiki defisit transaksi berjalan.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 22 Juli 2019  |  10:15 WIB

Bisnis.com, JAKARTA -- Pemerintah disarankan untuk mempercepat upaya reformasi struktural dalam rangka memperbaiki defisit transaksi berjalan.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Hendri Saparini menyatakan dalam beberapa waktu ke depan pemerintah perlu mempercepat upaya reformasi struktur ekonomi.

Dia beralasan bahwa kondisi defisit transaksi berjalan yang melebar masih bertumpu pada permasalahan hulu di luar masalah perang dagang sebagai faktor eksternal.

“Manufaktur itu penyumbang pajak terbesar 30% dan Januari-Juni ini pajak juga penerimaannya menurun. Maka perlu stimulus salah satunya berhadap dari sisi moneter untuk menurunkan sisi bunga. Berat? Iya. Tapi efektif, meski masih tanda tanya tapi butuh pergerakan investasi,” paparnya, Jumat (19/7/2019).

Hendri menilai, seharusnya penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia bisa dilakukan lebih awal atau sebelum pemilu tetapi BI menunda dan menurunkan pascapemilu.

Dia memprediksi jika suku bunga acuan dipangkas lebih awal akan menstimulus manufaktur. Meski begitu, langkah penurunan suku bunga BI akhirnya diakuinya bisa jadi langkah awal pemberi optimisme pasar dan bisa mendorong manufaktur agar tidak terus melambat pada semester kedua tahun ini.

“Ini memang harus didorong karena penerimaan pajak ini pertumbuhan sangat rendah dibanding tahun lalu untuk Januari-Juni,” ungkap Hendri.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
defisit transaksi berjalan

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top