Skema Kerja Sama Pertamina dan Saudi Aramco di Cilacap Diputuskan Akhir September

PT Pertamina (Persero) menyatakan kepastian skema kerja sama pengembangan Kilang Cilacap dengan Saudi Aramco akan diputuskan pada akhir September 2019.
Lucky Leonard
Lucky Leonard - Bisnis.com 19 Juli 2019  |  19:01 WIB
Skema Kerja Sama Pertamina dan Saudi Aramco di Cilacap Diputuskan Akhir September
Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar (tengah), Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati (kiri), dan Komisaris Utama Pertamina Tanri Abeng (kanan) saat mengunjungi kompleks Kilang Cilacap, Jumat (19/7/2019). - Kementerian ESDM

Bisnis.com, CILACAP--PT Pertamina (Persero) menyatakan kepastian skema kerja sama pengembangan Kilang Cilacap dengan Saudi Aramco akan diputuskan pada akhir September 2019.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan pembicaraan dengan calon mitranya tersebut masih berlangsung. Menurutnya, opsi pengembangan melalui skema spin off dengan melakukan valuasi aset terlebih dahulu masih diprioritaskan.

Namun, Pertamina pun telah menyiapkan skema lain apabila spin off tersebut dianggap tidak bisa dijalankan.

"Kami juga menawarkan [skema baru]. Kalau opsi itu [spin off] tidak workable, kami tawarkan untuk bisa bangun petrochemical-nya," katanya, di kompleks Kilang Cilacap," Jumat (19/7/2019).

Dia mengatakan skema kerja sama pembangunan fasilitas petrokimia tersebut sudah cukup matang. Namun, Nicke belum mengungkapkan berapa potensi nilainya karena masih dikaji secara detail.

Dia mengatakan negosiasi kerja sama pengembangan kilang dengan Aramco sudah berlangsung sejak 2014. Di samping itu, Pertamina pun sudah melakukan pengembangan sendiri.

Melalui pengembangan proyek yang termasuk dalam Refinery Development Master Plan (RDMP) tersebut, kapasitas pengolahan kilang akan meningkat dari sebelumnya 348.000 bpd menjadi 370.000 bpd. Selain itu akan terjadi juga peningkatan produksi gasoline dari 59.000 bpd menjadi 138.000 bpd dan produksi diesel dari 82.000 bpd menjadi 137.000 bpd.

Dengan kapasitas saat ini sebesar 348.000 bpd atau sebesar 33 persen dari kapasitas kilang minyak yang dioperasikan Pertamina, Kilang Cilacap menjadi kilang terbesar di Indonesia.

Kilang Cilacap tahap I beroperasi pada 1976 dengan kapasitas 118.000 bpd, sementara kilang Cilacap II beroperasi pada tahun 1983 dengan kapasitas 230.000 bpd. Minyak mentah yang diolah di kilang ini berasal dari domestik dan sebagian impor dengan produk yang dihasilkan berupa bahan bakar minyak (BBM) seperti bensin dengan oktan RON 88 (Premium) dan Ron 92 (Pertamax), kerosene, solar, hingga avtur.

Selain BBM, kilang Cilacap juga memproduksi LPG, ashpalt, sulfur, dan produk petrokimia seperti benzene dan propylene.

Sementara itu, Pertamina baru saja menyelesaikan Proyek Langit Biru Cilacap (PLBC) yang merupakan proyek peningkatan kualitas BBM dengan menghasilkan BBM setara EURO IV. Proyek ini dimulai sejak 26 November 2015 yang terdiri dari 2 unit proses.

Proyek PLBC ini berkontribusi dalam meningkatkan produksi Pertamax sekitar 668.000 barel per bulan atau dari 1 juta barel per bulan menjadi 1,67 juta barel per bulan sehingga meningkatkan pasokan BBM dalam negeri untuk mengurangi impor.

Hasilnya, terjadi peningkatan gross margin dari Kilang Cilacap senilai Rp6,5 miliar per hari. Adapun investasi pembangunan PLBC senilai US$392 juta dan menyerap tenaga kerja selama proyek hingga 2.500 orang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pertamina, saudi aramco, cilacap

Editor : Lucky Leonard

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top