Ilmuwan Menginginkan Ada Lembaga Khusus Kegempaan

Jepang sudah mendirikan Earthquake Research Institute sejak 1925 yang menjadi corong dalam memprediksi kegempaan. Begitu juga dengan Amerika Serikat yang memiliki United States Geological Survey.
Rivki Maulana
Rivki Maulana - Bisnis.com 18 Juli 2019  |  19:34 WIB
Ilmuwan Menginginkan Ada Lembaga Khusus Kegempaan
Wisatawan melintas di dekat reruntuhan tebing akibat gempa bumi di kawasan objek wisata Pantai Melasti, Badung, Bali, Selasa (16/7/2019). - ANTARA/Nyoman Hendra Wibowo

Bisnis.com, JAKARTA — Kalangan ilmuwan mendorong pembentukan lembaga yang khusus mengkaji potensi dampak gempa.

Pusat Gempa Nasional Kementerian Pekerjaan Umum & Perumahan Rakyat dinilai bisa menjadi embrio lembaga tersebut.

Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Satryo S. Brodjonegoro mengatakan bahwa aspek kelembagaan dalam belantika kegempaan di Indonesia tertinggal dibandingkan dengan negara lain yang rawan gempa seperti Jepang.

Menurutnya, kajian dampak gempa amat diperlukan untuk pengembangan teknologi terapan sehingga dampak gempa bisa diminimalisasi.

Satryo menerangkan bahwa Jepang sudah mendirikan Earthquake Research Institute sejak 1925 yang menjadi corong dalam memprediksi kegempaan. Begitu juga dengan Amerika Serikat yang memiliki United States Geological Survey.

"Dalam hal kelembagaan, Indonesia jauh lebih tertinggal dibandingkan negara lain yang potensi gempa dan jumlah gunung apinya lebih kecil. Sebagai negara dengan bencana gunung api yang besar, sudah saatnya Indonesia memiliki lembaga sejenis," ujarnya saat Lokakarya Nasional Peduli Gempa dan Gunung Api, Kamis (18/7/2019).

Menurut Satryo, Pusat Gempa Nasional (Pusgen) Kementerian PUPR layak menjadi kandidat lembaga khusus kegempaan. Keberadaan lembaga khusus kegempaan ini diharapkan membuat tingkat kesadaran akan bahaya gempa meningkat.

Satryo menuturkan bahwa kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana gempa harus terus dipupuk karena Indonesia terletak di kawasan cincin api atau ring of fire.

Dia menuturkan bahwa peristiwa gempa menjadi keseharian dan berbagai kejadian gempa paling berbahaya di dunia pernah terjadi di Indonesia.

Pada Juli 2018, gempa dengan kekuatan 6,4 Skala Richter (SR) mengguncang Pulau Lombok dan disusul Palu dan sekitarnya. Gempa di Palu bahkan menimbulkan tsunami dan likuefaksi.

Pada 2004, gempa 9,4 SR terjadi di Aceh dan menimbulkan tsunami dan menelan korban hingga ratusan ribu orang.

Untuk meminimalisasi dampak gempa, industri konstruksi perlu memanfaatkan teknologi yang terus diperbaharui. Lembaga khusus kegempaaan, lanjut Satryo, bisa mendukung pengembangan berbagai alternatif teknologi rancang gedung maupun konstruksi tahan gempa lebih optimal.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
gempa, gunung meletus

Editor : Zufrizal

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top