Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

BI: Surplus Juni Jadi Sinyal Baik Untuk Perbaikan Defisit Transaksi Berjalan

Bank Indonesia menyebut pencatatan surplus neraca dagang Juni 2019 sebesar US$0,19 miliar setelah bulan sebelumnya surplus US$0,22 miliar bisa memberi dampak yang positif bagi defisit transaksi berjalan.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 16 Juli 2019  |  10:08 WIB
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan sambutan pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia Tahun 2018 di Jakarta, Selasa (27/11/2018). - ANTARA/Puspa Perwitasari
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan sambutan pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia Tahun 2018 di Jakarta, Selasa (27/11/2018). - ANTARA/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA -- Bank Indonesia menyebut pencatatan surplus neraca dagang Juni 2019 sebesar US$0,19 miliar setelah bulan sebelumnya surplus US$0,22 miliar bisa memberi dampak yang positif bagi defisit transaksi berjalan.

Onny Widjanarko, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, menyatakan bahwa surplus neraca perdagangan tersebut terutama bersumber dari defisit neraca perdagangan migas yang membaik, sedangkan surplus neraca perdagangan nonmigas stabil. Dia menjelaskan, defisit neraca perdagangan migas yang membaik terutama disebabkan oleh penurunan impor migas yang lebih dalam dibandingkan dengan penurunan ekspor migas.

"Surplus neraca perdagangan nonmigas yang stabil dipengaruhi penurunan ekspor nonmigas, di tengah penurunan impor nonmigas," ungkap Onny melalui siaran pers, Selasa (16/7/2019).

BI mencatat neraca perdagangan migas tercatat defisit US$0,97 miliar pada Juni 2019. Onny menyebut kondisi ini membaik dibandingkan dengan defisit pada bulan sebelumnya yang sebesar US$1,05 miliar.

Adapun perbaikan tersebut ditopang oleh menurunnya impor migas dari US$2,18 miliar pada Mei 2019 menjadi US$1,71 miliar pada Juni 2019.

BI menyebut penurunan impor migas terjadi pada seluruh komponen baik minyak mentah, hasil minyak, maupun gas. Sementara itu, ekspor migas menurun dari US$1,14 miliar menjadi US$0,75 miliar pada Juni 2019.

Penurunan terutama terjadi pada komponen ekspor gas sejalan dengan menurunnya volume dan harga ekspor gas.

Oleh sebab itu, neraca perdagangan nonmigas Juni 2019 mengalami surplus US$1,16 miliar tidak banyak berbeda dibandingkan dengan kondisi bulan sebelumnya yang mencatat surplus US$1,26 miliar.

Kondisi tersebut dipengaruhi oleh penurunan ekspor nonmigas yakni dari US$13,69 miliar pada Mei 2019 menjadi US$11,03 miliar pada Juni 2019.

Penurunan terutama terjadi pada komponen bahan bakar mineral, kendaraan dan bagiannya, serta lemak dan minyak hewani atau nabati.

Sementara itu, impor nonmigas tercatat sebesar US$9,87 miliar pada Juni 2019, menurun US$2,55 miliar (mtm) dibandingkan dengan impor pada bulan sebelumnya.

Penurunan impor nonmigas terutama terjadi pada komponen mesin atau pesawat mekanik, mesin dan peralatan listrik, serta besi dan baja.

"Bi menilai surplus neraca perdagangan Juni 2019 berdampak positif terhadap prospek neraca transaksi berjalan 2019," ungkap Onny.

Ke depan, BI dan pemerintah akan terus berkoordinasi mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik sehingga tetap dapat menjaga stabilitas eksternal, termasuk prospek neraca perdagangan dan neraca transaksi berjalan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Neraca Perdagangan defisit transaksi berjalan
Editor : Achmad Aris
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top