Ada Masalah, Tapi Bisnis Ritel Masih Prospektif

Senior Associate Director Colliers International Indonesia Ferry Salanto mengatakan bahwa bisnis ritel belum membaik. Menurutnya peritel yang kinerjanya rendah dapat berdampak langsung pada keseluruhan kinerja pusat perbelanjaan.
Putri Salsabila
Putri Salsabila - Bisnis.com 12 Juli 2019  |  05:49 WIB
Ada Masalah, Tapi Bisnis Ritel Masih Prospektif
Sejumlah gerai di salah satu pusat perbelanjaan masih tampak tutup pada Kamis (6/6/2019) sedangkan gerai yang sudah beroperasi tampak mulai dipadati pengunjung. - Bisnis/Juli E. Manalu

Bisnis.com, JAKARTA – Fenomena penutupan sejumlah toko ritel modern dalam beberapa waktu belakangan menunjukkan bahwa masalah dalam industri ritel belum berakhir.

Belanja online belum menggantikan pusat perbelanjaan tradisional, namun kehadirannya yang luas memiliki beberapa dampak pada toko konvensional.

Senior Associate Director Colliers International Indonesia Ferry Salanto mengatakan bahwa bisnis ritel belum membaik. Menurutnya peritel yang kinerjanya rendah dapat berdampak langsung pada keseluruhan kinerja pusat perbelanjaan.

“Oleh karena itu pusat perbelanjaan perlu mengatur kembali komposisi tenant serta mengganti dengan tenant yang baru, sehingga dapat lebih menarik banyak orang,” tuturnya belum lama ini.

Ferry menuturkan, Saat ini masyarakat lebih suka berbelanja secara efektif dan sederhana. Misalnya, dengan berbelanja di toko terdekat, supermarket, atau melalui belanja online untuk kebutuhan sehari-hari.

Berdasarkan data yang dihimpun Colliers, permintaan pasokan bisnis retail masih prospektif dengan adanya sektor fesyen dan food and beverage yang akan terus mendukung industri retail.

Selain itu, Ferry menuturkan, mal-mal yang dipenuhi dengan kebutuhan gaya hidup akan tetap bertahan.

Pada kuartal kedua 2019, jumlah permintaan ruang ritel menurun menjadi 70.442 meter persegi. Namun secara tahunan permintaan ruang retail mengalami kenaikan sebanyak 58.528 meter persegi. Di sisi lain, proyeksi rata rata tahunan akan meningkat sebanyak 78.029 meter persegi hingga 2023.

“Kami memproyeksikan adanya penambahan pasokan sekitar 1,1 juta meter persegi untuk retail di Jakarta dan greater area dari 2019 hingga 2023,” tuturnya.

Adapun pada kuartal kedua 2019, pasokan retail masih stagnan atau belum memiliki penambahan pasokan.

Secara tahunan, penambahan pasokan diperkirakan mencapai 250.000 meter persegi. Adapun, proyeksi rata rata tahunan 5 tahun mendatang, pasokan retail akan mengalami peningkatan sebanyak 223.304 meter persegi.

Pada sisi penyewaan, Ferry mengatakan bahwa retail akan memiliki banyak supply yang tersedia. Namun proyeksi permintaan yang sedikit akan sulit  mengangkat sewa secara keseluruhan untuk mencatat pertumbuhan yang tinggi.

Ferry memproyeksikan nantinya akan ada penyerapan dengan kemungkinan banyaknya pasokan yang masuk, dan tingkat serapan yang masih rendah, kemungkin tingkat kekosongan akan naik, meskipun sedikit.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ritel

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup