Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Manufaktur Asia Tenggara Dongkrak Properti Industrial

Malaysia, Thailand, dan Vietnam memenangkan sektor manufaktur yang terus berkembang karena banyak pabrik yang pindah lokasi dari China, Korea, dan Jepang karena kualitas kinerja yang tinggi sehingga biaya upahnya juga semakin tinggi.
Ilustrasi kegiatan industri manufaktur/Reuters
Ilustrasi kegiatan industri manufaktur/Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Investasi langsung dari asing ke sektor manufaktur di negara berkembang seluruh Asia Tenggara terus mengalami peningkatan dalam tiga tahun terakhir hingga setara dengan US$46 miliar.

Lembaga konsultan properti Jones Lang LaSalle (JLL) Asia memperkirakan tren tersebut akan terus meningkat karena sektor manufaktur Asia Tenggara semakin kompetitif setelah adanya tarif dagang yang lebih rendah dan konsumen yang makin besar dan terus bertumbuh.

Proyeksi pada tren manufaktur itu didasarkan pada riset JLL Asia, ekspor dari Amerika Serikat ke Thailand dan Vietnam yang naik 25% - 30% secara year-on-year (yoy).

Beberapa hal yang menjadi kunci kemajuan sektor manufaktur Asia Tenggara di antaranya industri otomotif, elektronik, bahkan hingga sistem fotovoltaik. Adapun, bidang logistik juga terus berkembang di Asia tenggara dengan adanya perkembangan dari perusahaan dagang elektronik dan peraturan perdagangan yang makin bebas dan semakin efisien dalam beberapa tahun terakhir.

“Vietnam dan Malaysia semakin menarik dijadikan penghubung alur logistik oleh perusahaan-perusahaan global, sedangkan Thailand dan Indonesia terus berkembang karena adanya perusahaan dagang-el yang terus berkembang,” ungkap James Taylor, Head of Research JLL Indonesia, dalam keterangan resmi, Senin (1/7/2019).

Adapun, permintaan aset industri dan logistik turut terus bertumbuh bersamaan dengan adanya pertumbuhan permintaan. Dalam tiga tahun terakhir, pengembang properti dan investor terus meningkatkan portofolionya di kedua sektor itu.

Di Vietnam dan Indonesia, sejumlah perusahaan swasta, bank global, dan dana pesiun luar negeri terus megajukan joint venture atau kerja sama untuk mengembangkan fasilitas industri modern dan logistik. Sedangkan, di Filipina dan Thailand, pengembang lokalnya masih mendominasi pengembangan industri nasional.

Investasi langsung dari Asing pada sektor manufaktur di Asia Tenggara juga sudah berlipat ganda dalam delapan tahun belakangan hingga mencapai US$46 miliar. Vietnam, Malaysia, dan Thailand menjadi negara-negara yang mengalami pertumbuhan investasi terbesar dalam tiga tahun terakhir dengan pertumbuhan rata-rata 12% per tahun.

“Kami yakin Malaysia, Thailand, dan Vietnam memenangkan sektor manufaktur yang terus berkembang karena banyak pabrik yang pindah lokasi dari China, Korea, dan Jepang karena kualitas kinerja yang tinggi sehingga biaya upahnya juga semakin tinggi. Selain itu, perang dagang antara AS dan China juga mempengaruhi,” lanjut Taylor.

Di Indonesia sendiri, industri otomotif diperkirakan bisa menjadi pendorong sektor manufaktur. Investor asing banyak yang tertarik menaruh uangnya di Indonesia karena biaya upah pekerjanya yang rendah, kekayaan negaranya tinggi, dan demografisnya yang menarik.

“Indonesia sudah menjadi negara pemanufaktur mobil terbesar kedua di dunia, setelah Thailand.Salah satu yang besar adalah kerja sama antara SAIC dari China, General Motors, dan Liuzhou Wuling Motors, sudah menghasilkan pengembangan senilai US$397 juta untuk membangun pabrik mobil di GIIC Deltamas. Konstruksinya sudah berlangsung dari sejak 2015 hingga tahun ini, dan mobil Wuling sudah semakin besar pasarnya di Indonesia, makin banyak produknya di jalanan,” paparnya.

Selain itu, perusahaan dagang-el di Indonesia yang terus berkembang juga semakin mendorong sektor ini dengan adanya pembangunan sejumlah fasilitas untuk mendukung perkembangan dagang-el. Salah satu perusahaan besar, Lazada, menjadi salah satu pengisi di kawasan industri.

“Lazada saat ini sudah mengembangkan fasilitas yang dibangun khusus untuk perusahaan itu sudah seluas 77.000 meter persegi dari sebelumnya hanya 30.000 meter persegi. Selain itu, perusahaan Li and Fung Logistic baru-baru ini menandatangani perjanjian untuk menyewa 21/000 meter persegi peroperti di Jababeka Industrial Estate.”

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Penulis : Mutiara Nabila
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper