Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ekonomi China Makin Lesu Jelang Tatap Muka Trump-Xi Jinping

Ekonomi China tampak melemah pada Juni, menggarisbawahi pentingnya Presiden Xi Jinping untuk mendorong progres perundingan perdagangan dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pekan ini dan menghindari tarif impor lebih lanjut.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 27 Juni 2019  |  09:21 WIB
Yuan - Bloomberg
Yuan - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Ekonomi China tampak melemah pada Juni, menggarisbawahi pentingnya Presiden Xi Jinping untuk mendorong progres perundingan perdagangan dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pekan ini dan menghindari tarif impor lebih lanjut.

Kemunduran itu tercermin dalam indeks Bloomberg Economics yang menghimpun indikator-indikator kondisi bisnis dan sentimen pasar.

Prospek perusahaan kecil memburuk dibandingkan dengan Mei saat ketegangan perdagangan AS-China membebani penjualan di masa mendatang. Saham properti, ekspor Korea Selatan, dan inflasi pabrik mengarah pada penurunan, sedangkan bijih besi dan harga tembaga membaik.

Penutupan tambang utama di Brasil mendorong harga bijih besi global lebih tinggi dan protes yang terjadi di Chili menekan pasokan tembaga. Keadaan ini tidak berarti bahwa ekonomi kuat. Harga bijih besi turun untuk hari keempat pada Rabu di tengah kekhawatiran tentang permintaan.

Sementara itu, saham properti turun dari puncaknya pada April, meskipun lebih tinggi dibandingkan dengan akhir Mei.

Ekspor Korea Selatan, indikator awal kesehatan perdagangan, terutama untuk barang-barang elektronik, turun 10 persen dalam 20 hari pertama. Hal ini menunjukkan gambaran suram dari melemahnya permintaan dan gangguan rantai pasokan.

Kondisi ekonomi yang tampak rapuh memberi Xi latar belakang yang kurang optimistis untuk bernegosiasi ketimbang pihak lainnya.

Pemerintah dan bank sentral China telah berupaya menyalurkan stimulus ke perusahaan-perusahaan kecil dan sektor swasta, tetapi mereka justru akan menghadapi kerugian yang jauh lebih cepat ketimbang perusahaan-perusahaan besar dan perusahaan negara.

Kondisi ini akan dialami jika pertemuan Trump-Xi Jinping di sela-sela KTT G20 akhir pekan ini berlangsung buruk dan eksportir Negeri Tirai Bambu menghadapi tarif 25 persen untuk sisa ekspornya senilai sekitar US$300 miliar ke AS.

“Meski perang perdagangan berhenti memanas akibat pertemuan Trump-Xi, tekanan masih meningkat pada perusahaan-perusahaan yang lebih kecil,” jelas ekonom Bloomberg Qian Wan di Hong Kong.

“Kebijakan-kebijakan stimulus yang ditargetkan kurang efektif dalam dampaknya,” lanjut Wan.

Perusahaan kecil merupakan tulang punggung ekonomi China dan mayoritas lapangan kerja. Ekonom Standard Chartered Shen Lan menjelaskan, melemahnya permintaan domestik berdampak pada produksi dan penjualan perusahaan-perusahaan kecil.

“Sementara minat berinvestasi tetap lamban,” tambah Lan.

Meski sebagian eksportir telah didorong oleh pemuatan produksi dan pengiriman ke AS di muka, prospek penjualan dan profitabilitas tertahan oleh konflik yang belum terselesaikan.

Menurut sumber terkait, pengenaan tarif yang lebih tinggi pada sisa ekspor ke AS telah ditangguhkan sambil menunggu dimulainya kembali perundingan perdagangan.

Pada Rabu (26/6/2019), Trump menyatakan bahwa tarif AS dengan besaran yang substansial akan dikenakan pada barang-barang dari China jika kedua belah pihak tidak membuat progres dalam kesepakatan perdagangan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi china
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top