KABAR PASAR 27 JUNI: Ekspansi Anorganik Marak, Tarif PPh Impor Harus Dievaluasi

Berita mengenai maraknya aksi merger dan akuisisi perusahaan di Indonesia serta perlunya evaluasi PPh impor menjadi sorotan media masa hari ini, Kamis (27/6/2019).
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 27 Juni 2019  |  08:11 WIB
KABAR PASAR 27 JUNI: Ekspansi Anorganik Marak, Tarif PPh Impor Harus Dievaluasi
Kapal kargo melego jangkar di Selat Madura, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (16/9)./ANTARA FOTO - Didik Suhartono

Bisnis.com, JAKARTA – Berita mengenai maraknya aksi merger dan akuisisi perusahaan di Indonesia serta perlunya evaluasi PPh impor menjadi sorotan media masa hari ini, Kamis (27/6/2019).

Berikut ringkasan topik utama di sejumlah media nasional:

Ekspansi Anorganik Marak. Aksi merger dan akuisisi perusahaan di Indonesia masih akan marak pada tahun ini, terutama di sektor finansial, karena potensi pertumbuhannya masih sangat besar. (Bisnis Indonesia)

Tarif PPh Impor Harus Dievaluasi. Langkah pemerintah memasukkan sejumlah barang modal sebagai barang mewah yang dikenai pajak penghasilan tambahan dinilai berisiko mendatangkan masalah bagi industri domestik, sehingga harus dievaluasi. (Bisnis Indonesia)

Pemerintah Berharap Pelonggaran. Otoritas fiskal kembali berharap supaya Bank Indonesia segera menurunkan suku bunga acuan. (Bisnis Indonesia)

Ibu Kota Baru Sumbang 0,1%. Pemerintah menegaskan bahwa pemindahan ibu kota negara tidak akan berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, pemindahan ibu kota negara diperkirakan akan memberikan dampak tambahan terhadap produk domestik bruto (PDB) sebesar 0,1%. (Bisnis Indonesia)

Mudah Keluar, Waspada Gerak Hot Money di Pasar. Investor asing mulai kembali menanamkan dana di pasar modal Tanah Air. Di pasar saham, dalam sebulan terakhir, investor asing tercatat lebih banyak belanja saham ketimbang jualan. Dengan begitu, net buy asing di pasar reguler tercatat sebesar Rp 2,72 triliun. (Kontan)

Tren Pertumbuhan Kredit Masih Lambat. Bank Indonesia (BI) menegaskan kebijakan makroprudensial akomodatif dalam tiga hingga empat tahun depan. Selain itu, proses kebijakan moneter masih terbuka lebar. Pasalnya, pelambatan penyaluran kredit diperkirakan berlanjut hingga beberapa tahun ke depan. (Kontan)

APBN 2020 Ekspansif Terarah. Pemerintah menyiapkan strategi ekspansif terarah dan terukur dalam merancang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020. Oleh karena itu, pemerintah menargetkan deficit anggaran yang tetap rendah dalam RAPBN 2020, yakni sebesar 1,52-1,75 persen terhadap PDB. Target ini lebih rendah dibandingkan tahun ini yang sebesar 1,84 persen. (Investor Daily).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kabar pasar

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top